Home » » Guruh: Mbak Mega Mirip Pak Harto

Guruh: Mbak Mega Mirip Pak Harto

Written By Redaksi kabarsulawesi on Minggu, 11 April 2010 | 1:52 AM


Kabar Sulawesi (April 8, 2010 by pemiluindonesia.com) : Politisi PDI Perjuangan Guruh Soekarno Putra menilai situasi yang dialami kakak perempuannya, Megawati Soekarnoputri mirip situasi yang dihadapi mantan Presiden Soeharto pada 1997 lalu, dipaksakan memimpin partai meski sudah capai.

“Mbak Mega diojok-ojok jadi calon tunggal. Seperti zaman Soeharto tahun 1997, diojok-ojok jadi Presiden. Pak Harto dari pidatonya dulu juga ngomong, coba dipikir dulu. Malah Pak Harmoko diminta ngecek, apa betul daerah-daerah masih menginginkan,” kata Guruh dalam jumpa pers di Segara Village, Bali, Selasa 6 April 2010.

Pak Harto, kata Guruh, dulu sebetulnya juga sudah capek. Bahkan dia juga mengaku mendengar saran Bu Tien sebelumnya bahwa Pak Harto harus mundur. “Tapi diojok-ojok terus.  Seperti tahun 1997, selalu diojok-ojok jadi calon tunggal. Nah Mbak Mega sekarang menurut saya situasinya mirip sekali,” kata dia.
“Saya rasa keadaan Mbak Mega sekarang ini kok yo bisa kurang lebih mirip banget seperti zaman Pak Harto,” kata Guruh.

Tahun 1997 lalu, Pak Harto, kata dia, sebetulnya ingin mundur, istirahat dan sebagainya. Kondisi itu yang dirasakan Mega saat ini. “Orang-orang di sekitar Mbak Mega selalu mendorong-dorong Mbak Mega, selalu memberi masukan ke Mbak Mega bahwa daerah-daerah semuanya masih menginginkan Mbak Mega,” katanya.

Padahal setahunya, banyak daerah yang sudah legowo kalau Mega ingin istirahat dan mundur dari kursi pimpinan partai dan kepemimpinan PDI Perjuangan diserahkan pada generasi selanjutnya. “Dalam pengertian saya bisa mengukur, banyak daerah yang memilih saya. Mas Guruh saja yang meneruskan agar Mbak Mega bisa istirahat,” kata dia.

Guruh sendiri akan maju sebagai kandidat ketua umum. Untuk mendapatkan dukungan, Guruh sudah membawa baliho yang dipasang di sekitar arena Kongres. Namun baliho itu kemudian diturunkan paksa. Mega sendiri diusung kembali menjadi ketua umum partai periode 2010-2015, dengan dukungan dari seluruh daerah.
Guruh sendiri ditawarkan menjadi Sekjen. Soal tawaran ini, Guruh mengaku masih dipkirkan. “Sekarang bukan masalah jadi ketua umum atau tidak. Ini masalah negara dan bangsa. Harus diutamakan dan diselamatkan. Tapi untuk menyelamatkan butuh satu alat, alat itu juga harus kita selamatkan,” kata dia.
Kalau PDIP tidak selamat dan didominasi orang-orang ‘keblinger’, Guruh mempertanyakan mau dibawa ke mana partai berlambang banteng moncong putih ini. “Melenceng dari rel, maka akan terjadi bencana,” kata Guruh. sumber: Peni Widarti | Bali• VIVAnews

Guruh: Puan Masih Kurang Makan Asam Garam

Kabar Sulawesi (April 8, 2010 by pemiluindonesia.com) : Pencalonan Guruh Soekarno Putra sebagai ketua umum PDI Perjuangan mendapat ‘kritikan’ dari keponakannya sendiri, Puan Maharani. Putri Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas itu malah meminta Guruh mendirikan partai sendiri. Apa kata Guruh terkait pernyataan Puan?

“Saya prihatin. Apalagi Puan sebagai keponakan saya dan masih junior. Bahwa Puan mungkin ingin jadi negarawan atau politisi suatu saat, saya rasa dengan komentar seperti itu sangat disayangkan,” kata Guruh dalam jumpa pers di Segara Village, Bali, Selasa 6 April 2010.

Sebagai calon negarawan atau politisi, kata Guruh, tidak sepantasnya Puan mengeluarkan pernyataan seperti itu. “Jadi di sini menandakan bahwa memang betul Puan masih kurang asam garam. Kuranglah! Istilah populernya masih hijau, masih perlu waktu untuk belajar,” cetus adik bungsu Megawati Soekarnoputri itu.
Guruh mengaku tidak rela, Puan yang masih hijau seperti itu dan memiliki hubungan keluarganya kemudian dikarbit. “Sehingga seolah keluarga Bung Karno menjadi nepotisme, bahkan KKN,” kata dia.

Padahal, kata dia, PDI Perjuangan tidak harus dipimpin oleh trah Soekarno. Setiap orang mempunyai hak untuk dipilih dan memilih. Namun ia maklum, saat ini sesuai kondisi obyektif, masyarakat masih bersikap paternalistic. sumber: Peni Widarti | Bali• VIVAnews

Guruh Minta Politisi ‘Keblinger’ PDIP Insyaf

Kabar Sulawesi (April 8, 2010 by pemiluindonesia.com) : Politisi PDI Perjuangan Guruh Soekarno Putra menyesalkan sikap politisi-politisi ‘keblinger’ yang berada di sekitar kakaknya, Megawati Soekarnoputri. Merekalah yang mendorong-dorong Mega maju kembali jadi ketua umum partai. Guruh minta para politisi ini insyaf.

“Tidak etis kalau menyebut nama. Saya hanya mengharapkan saudara-saudara kita yang keblinger dapat segera insyaf,” kata Guruh dalam jumpa pers di Segara Village, Bali, Selasa 6 April 2010.
Ulah para politisi ini, kata Guruh, membuatnya prihatin. Salah satu contohnya, menerbitkan Surat Keputusan 435 yang melanggar AD/ART partai. “Itu sudah keblinger, mengintimidasi bawahannya. Orang PAC diintimidasi untuk milih si anu. Artinya melengceng dari ajaran Pancasila. Apa Mbak Mega seperti itu juga? Saya nggak mau komentar,” kata dia.

Sesuai dengan AD/ART, kata dia, SK itu mengandung banyak pelanggaran. Ia juga menilai Kongres III PDIP melanggar AD/ART. “Oleh karena itu segala produknya tidak sah. Segala keputusan kongres jadi tidak sah,” kata dia.
Di PDIP, lanjut dia, sebetulnya  tidak ada isitilah mencalonkan. “Saya dan Mbak Mega bukan mencalonkan, tapi dicalonkan menjadi ketum. Jadi yang bertarung para pemilih,” kata dia.
Sampai berlangsungnya Kongres, Guruh mengaku hanya mendapat dukungan dari empat cabang. Namun ia menduga suara di arus bawah sudah dipangkas. “Memang rapat PAC dapat tekanan, terjadi money politic,” katanya.

Ditanya apakah ia akan keliar dari partai dengan kondisi yang mengecewakannya ini, Guruh mengaku belum berpikir ke arah sana. Guruh juga menegaskan tidak mendukung wacana wakil ketua umum. Dia merasa tidak perlu ada posisi itu. Struktur organisasi yang ada saat ini dinilainay sudah baik. “Jadi apa perlunya. Karena wacana menjadi wakil ketua umum saya melihatnya ada sesuatu yang dipaksakan, terutama untuk memajukan Puan. Kemudian ada lagi yang meng-counter dengan mengajukan Prananda,” kata dia.

Kalau kondisinya seperti ini terus, partai tidak menyadari kekurangan, kesalahan dan kekeliruannya, Guruh khawatir suara partai akan turun. “Maka mestinya doa saya pun agar anggota yang belum insyaf menjadi insyaf. Bahwa selama ini sudah melakukan kesalahan dan keblinger. PDIP selalu menyatakan partai yang mengajarkan ajaran Bung Karno, tapi tidak dipraktikkan dan dipelajari. Tidak demokratis artinya tidak Pancasilais juga,” kata dia.

Ia meminta politisi yang sudah insyaf untuk memisahkan diri dari partai. Guruh sendiri saat ini mengaku sudah sulit berkomunikasi dengan kakaknya. “Mbak Mega nggak ada waktu. Apa disumbat? Nggak tahu juga. Mbak Mega saja yang tidak memberi waktu kepada saya,” kata dia. sumber: Peni Widarti | Bali• VIVAnews

Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer