Home » » Guru SD Pemalsuan Dokumen Agar Dapatkan Kredit di BPR

Guru SD Pemalsuan Dokumen Agar Dapatkan Kredit di BPR

Written By Redaksi kabarsulawesi on Kamis, 13 Mei 2010 | 12:22 PM

PALU - Terdakwa Wilda (37), guru SD yang diduga melakukan pemalsuan dokumen, untuk meloloskan keinginannya mengambil kredit di Bank Perkreditan Rakyat Palu Anugerah, kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Palu Selasa kemarin (11/5). 

Tiga saksi dari BPR Palu Anugerah, dihadirkan. Dalam persidangan saksi Nolvi, marketing BPR Palu Anugerah, mengaku sempat mempertanyakan pada bendahara yang menandatangani surat pernyataan terdakwa.
Nolvi, bertanya kepada bendahara, setelah mengetahui bahwa gaji Wilda telah dipotong, karena telah mengajukan kredit di bank lain. Kata Nolvi, bendahara telah mengetahui bahwa terdakwa Wilda, sudah tidak menerima gajinya lagi, karena telah mengalami pemotongan di bank lain. 

“Secara kasat mata, berkas persyaratan yang dilampirkan oleh terdakwa terlihat asli. Makanya, saya berani mengajukan ke pimpinan untuk disetujui permintaan kreditnya,”jelas Nolvi. 

Menurutnya, selain persyaratan dokumen kepegawaian, yang wajib dilampirkan oleh calon nasabah, adalah surat pernyataan belum melakukan peminjaman kredit di bank lain. Dokumen itu, harus ditandatangani oleh bendahara dan diketahui oleh kepala sekolah bagi PNS guru. 

Saksi lainnya yang menjalani pemeriksaan Selasa kemarin, adalah Direktur Operasional BPR Palu Anugerah, Firida. Dalam keterangannya, Firida mengaku menandatangani persetujuan pengajuan kredit Wilda, karena menganggap berkas terdakwa asli. 

Sebelumnya, dalam surat dakwaan jaksa I Gede Sukayasa SH, Wilda didakwa melakukan pemalsuan dokumen yang dibuat seolah-olah asli. Terdakwa pada 26 September 2007, mendatangi BPR Palu Anugerah untuk bermohon kredit. Seperti dalam surat dakwaan, Wilda, menyerahkan surat yang diduga palsu untuk diagunkan sebagai jaminan. 

Dokumen tersebut adalah kartu Taspen, Kartu Pegawai (Karpeg), SK 80 persen, SK 100 persen serta SK terakhir. Oleh BPR Palu Anugerah, terdakwa bermohon kredit Rp 50 Juta dengan angsuran 96 bulan atau delapan tahun dengan angsuran Rp13 juta. Namun, ketika pembayaran masih berjalan 12 bulan, terdakwa tidak lagi membayar angsuran. 

Masih dalam berkas dakwaan, terungkap bahwa terdakwa mengaku kepada pihak BPR Palu Anugerah, setelah dilakukan penagihan berulang-ulang, tidak mampu lagi membayar angsuran, karena gajinya telah habis terpotong atas pinjaman kredit di bank lain. 

“Saat itulah terdakwa mengaku bahwa berkas dokumen aslinya berada di BPR Lokadana jalan Moh Hatta,” kata saksi Nolvi.(cr1
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer