Home » » Kontroversi Susno Dan Foto –foto Ketika Tertangkap Kamera Wartawan

Kontroversi Susno Dan Foto –foto Ketika Tertangkap Kamera Wartawan

Written By Redaksi kabarsulawesi on Selasa, 11 Mei 2010 | 3:12 AM


Kabar Sulawesi : Pernyataan Susno yang berbunyi "Ibaratnya di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya" telah menimbulkan kontroversi hebat di Indonesia. Akibat dari pernyataan ini muncul istilah "cicak melawan buaya" yang sangat populer. Istilah ini juga memicu gelombang protes dari berbagai pihak dan membuat banyak pihak yang merasa anti terhadap korupsi menamakan diri mereka sebagai Cicak dan sedang melawan para "Buaya" yang diibaratkan sebagai Kepolisian. 

Komjen Pol Drs. Susno Duadji, S.H, M.Sc. (lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954; umur 55 tahun) adalah mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim Polri) yang menjabat sejak 24 Oktober 2008[1] hingga 24 November 2009[2]. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kapolda Jawa Barat.

Susno Duadji merupakan lulusan Akabri Kepolisian dan mengenyam berbagai pendidikan antara lain PTIK, S-1 Hukum, S-2 Manajemen, dan Sespati Polri. Ia juga mendapat kursus dan pelatihan di antaranya Senior Investigator of Crime Course (1988), Hostage Negotiation Course (Antiteror) di Universitas Louisiana AS (2000), Studi Perbandingan Sistem Kriminal di Kuala Lumpur Malaysia (2001), Studi Perbandingan Sistem Polisi di Seoul, Korea Selatan (2003), serta Training Anti Money Laundering Counterpart di Washington, DC, AS

Keluarga

Susno adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Duadji dan ibunya bernama Siti Amah. Ia adalah suami dari Herawati dan bapak dari dua orang putri.

Karier

Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang menghabiskan sebagian kariernya sebagai perwira polisi lalu lintas, sudah juga mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi. Kariernya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang. Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi kepala pelaksana hukum di Mabes Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada tahun 2003. tahun 2004 dia ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK ). Sekitar tiga tahun di PPATK, Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jabar dan sejak 24 Oktober 2008, dia menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri menggantikan Bambang Hendarso Danuri

Susno Duadji sempat menyatakan mundur dari jabatannya pada tanggal 5 November 2009, akan tetapi pada 9 November 2009 ia aktif kembali sebagai Kabareskrim Polri.[5] Namun demikian, pada 24 November 2009 Kapolri secara resmi mengumumkan pemberhentiannya dari jabatan tersebut. 

Kode sebutan (call sign) Susno sebagai "Truno 3" atau orang nomor tiga paling berpengaruh di Polri setelah Kapolri dan Wakapolri, menjadi populer di masyarakat umum setelah sering disebut-sebut terutama dalam pembahasan kasus kriminalisasi KPK. Meskipun demikian, kode resmi untuk Kabareskrim sesungguhnya adalah "Tribrata 5", sedangkan Truno 3 adalah kode untuk Direktur III Tipikor (Tindak Pidana Korupsi).

Kontroversi

  1. Pernyataan Susno yang berbunyi "Ibaratnya di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya" telah menimbulkan kontroversi hebat di Indonesia. Akibat dari pernyataan ini muncul istilah "cicak melawan buaya" yang sangat populer. Istilah ini juga memicu gelombang protes dari berbagai pihak dan membuat banyak pihak yang merasa anti terhadap korupsi menamakan diri mereka sebagai Cicak dan sedang melawan para "Buaya" yang diibaratkan sebagai Kepolisian.[6][7]
  2. Kode "Truno 3" disebut dalam percakapan yang disadap oleh KPK sehubungan dengan kasus bank Century.
  3. Pernyataan Susno yang berbunyi ”Jangan Pernah Setori Saya” juga sangat terkenal saat beliau menjabat sebagai kapolda Jabar.
  4. Susno mengungkapkan adanya seorang pegawai pajak yang mempunyai rekening tidak wajar. Pegawai pajak yang dimaksud adalah Gayus Tambunan dan akibat dari terbongkarnya kasus ini, beberapa jenderal polisi , pejabat kejaksaan, kehakiman dan aparat dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia kehilangan jabatanya dan diperiksa atas dugaan bersekongkol untuk merugikan negara.[9]
  5. Susno menyebutkan seorang mafia kasus ditubuh POLRI yang bernama mr.X , dikemudian hari diduga Mr.X itu adalah seorang mantan Diplomat dan anggota BIN bernama Sjahril Djohan.

Referensi

  1. ^ Susno Duadji Kabareskrim Baru, Kapolda Jabar Timur Pradopo, Detik.com.
  2. ^ a b Kapolri Resmi Copot Susno Duadji, Ito Jadi Kabareskrim
  3. ^ Susno, Kapolda Jabar. Pikiran Rakyat.
  4. ^ http://nasional.vivanews.com/news/read/5002-mencari_koruptor_lebih_mudah
  5. ^ Susno Duadji Aktif Lagi Sebagai Kabareskrim, Liputan 6.
  6. ^ http://www.antaranews.com/berita/1257216883/istilah-cicak-buaya-pelajaran-bagi-pejabat-negara
  7. ^ http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/07/14/grf,20090714-188,id.html
  8. ^ http://politik.kompasiana.com/2009/11/07/kapolda-jabar-irjen-pol-susno-duadjijangan-pernah-setori-sayapikiran-rakyat-edisi-10-februari-2008-sebuah-referensi/
  9. ^ http://vibizdaily.com/detail/polhukam/2010/03/26/susno_sebut_gayus_tambunan_andi_kosasih_satu_komplotan
  10. ^ http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/hukum/10/04/08/110109-susno-sebut-mr-x-sebagai-dalang-pengatur-kasus-gayus

Sumber : Wikipedia

 

Kompolnas: Susno Bagian Dari Buaya, Bukan Superhero

JAKARTA (Berita SuaraMedia) - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta agar masyrakat bisa menyikapi pemeriksaan Komjen Pol Susno Duadji dengan wajar. Semua yang dilakukan Polri adalah bagian dari pemberantasan mafia hukum.

"Jangan terjebak pada pandangan kurang pas, dan beranggapan Susno superhero. Dia bagian dari buaya. Jadi jangan berlebihan," terang anggota Kompolnas Adnan Pandu Praja di Jakarta, Senin (10/5/2010).

Dia menegaskan, semua tentu melalui proses hukum. Kalau memang ada bukti Susno terlibat kejahatan tentu harus diproses.

"Ini negara hukum, jangan Polri fight back dijadikan motif. Kalau ada bukti, tentu hukum harus ditegakkan," tambahnya.

Dia menjelaskan pengusutan kasus Arowana itu, bagaimanapun untuk membongkar perusahaan mafia. Karena itu, Susno dipanggil dan diperiksa.

"Ini ada bos mafia yang belum ketahuan. Kasus ini banyak disebut tapi tidak ketahuan mafiosonya. Kalau kita lihat kan orang-orangnya sama dengan kasus Gayus, jadi harus dibongkar tuntas," tutupnya.

Sebelumnya, Komjen Pol Susno Duadji akhirnya memenuhi panggilan Mabes Polri terkait kasus dugaan suap perkara investasi PT Salma Arowana Lestari. Mabes Polri pun memberikan apresiasi atas sikap mantan Kabareskrim tersebut.

"Terima kasih karena Susno dan tim kuasa hukum memenuhi panggilan. Biarkan penyidik berjalan sesuai ketentuan," kat Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang saat dihubungi wartawan.

Edward mengatakan, jika Susno keberatan dengan pemeriksaan tersebut, bisa beradu argumen di pengadilan atau bisa mengajukan pra peradilan. Jangan sampai jika Susno ditetapkan sebagai tersangka nantinya, akan ada perkataan kalau kasus ini direkayasa.

"Kalau dijadikan tersangka itu karena ada bukti dan keterangan saksi," ujarnya.

Menurut Edward, saksi-saksi sudah diperiksa terkait kasus ini. Sudah ada keterangan awal dan perlu pendalaman dari Susno.

"Pemeriksaan ini terkait Arowana yang ia munculkan sendiri di DPR. Kemudian kita periksa, perlu keterangan dari dia," jelasnya.

Sementara itu, Mabes Polri menyatakan telah memeriksa beberapa saksi dalam kasus investasi ikan arwana PT Salma Arwana Lestari, Riau. Dari pemeriksaan itu Mabes Polri menyatakan telah mendapat keterangan yang perlu ditindaklanjuti dengan meminta keterangan mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji.

Demikian disampaikan oleh Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang di Mabes Polri, Jakarta. "Sudah ada keterangan awal dan perlu pendalaman dari beliau (Susno)," kata Edward.

Edward menambahkan, Polri berterima kasih kepada Susno yang telah memenuhi panggilan kedua dari penyidik. Karena, pada panggilan pertama, Susno tidak memenuhi panggilan. "Terimakasih karena Pak Susno dan timnya yang memenuhi panggilsn. Biarkan penyidik berjalan sesuai ketentuan," kata dia.

Pemeriksaan kepada Susno hari ini merupakan panggilan yang kedua, setelah sebelumnya, pada 6 Mei yang lalu Susno tidak memenuhi panggilan penyidik.

Waktu itu Susno mangkir karena menganggap terdapat kejanggalan dalam surat pemanggilan, yaitu tidak ada nama tersangka dalam perkara tersebut. Susno pun menyatakan khawatir pemeriksaan itu sebagai jebakan bagi dirinya untuk dijadikan tersangka kasus ini.

Terkait keberatan itu, Edward mengatakan tak perlu dipermasalahkan di luar jalur hukum. Dia mempersilahkan pihak Susno menempuh jalur hukum jika merasa keberatan dengan pemanggilan Mabes Polri tersebut. "Kalau keberatan, mari beradu argumen di pengadilan. Kalau ada yang dipermasalahkan, selesaikan di pengadilan atau ajukan praperadilan," kata dia.

Edward meminta, jika pada akhirnya Susno dijadikan tersangka dalam kasus ini, maka itu bukan rekayasa. Karena, menurut dia, penyidik telah bekerja dengan profesional. "Jangan kalau dijadikan tersangka nanti dibilang rekayasa. Kalau dijadikan tersangka itu karena ada bukti dan keterangan saksi," kata dia. (fn/d2t/vs) www.suaramedia.com


"Saya Cinta Polri, Bukannya Merusak"

JAKARTA (Berita SuaraMedia) - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, menegaskan, tidak ada rekayasa dalam penanganan kasus penangkaran arwana di Riau oleh tim independen Polri, termasuk jika mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji ditetapkan sebagai tersangka.
"Kalau dijadikan tersangka itu karena ada bukti dan keterangan saksi," ucap Edward ketika dihubungi wartawan, Senin (10/5/2010), menanggapi pernyataan pihak mantan Kepala Polda Jawa Barat itu.
Seperti diberitakan, Susno hari ini memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi di Mabes Polri. Susno hadir meskipun dalam surat panggilan kedua yang dia terima tetap tidak dicantumkan identitas tersangka dalam kasus arwana. Kuasa hukum Susno, Henry Yosodiningrat pekan lalu mengatakan, ada rekayasa jika kliennya ditetapkan sebagai tersangka serta ditahan.
Edward mengatakan, jika penyidik meningkatkan status Susno dan jika tim kuasa hukum keberatan dengan langkah itu sebaiknya diselesaikan di pengadilan. Selain itu, pihak Susno dapat mengajukan pra peradilan. "Kalau keberatan mari beradu argumen di pengadilan. Penyidik bekerja profesional," tegas dia.
Namun, Edward tetap mengucapkan terimakasih kepada pihak Susno atas kooperatifnya memenuhi panggilan hari ini. "Biarkan penyidik berjalan sesuai ketentuan," kata dia.
Susno Duadji bersedia datang ke Markas Besar Kepolisian untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus arwana, hari ini. “Pak Susno rencananya datang ke pemeriksaan,” kata pengacara M Assegaf melalui pesan singkat.

Penyidik memanggil Susno sebagai saksi terkait penanganan kasus arwana oleh penyidik Badan Reserse dan Kriminal. Sebelumnya, Susno mengatakan ada makelar kasus dalam penanganan perkara tersebut. Bekas Kepala Bareskrim itu pun menyebut-nyebut Sjahril Djohan sebagai makelar kasus di perkara arwana.

Namun hingga sekarang, penyidik belum menetapkan tersangka dalam dugaan makelar kasus itu. Menurut Juru Bicara Kepolisian Inspektur Jenderal Edward Aritonang, penyidik perlu meminta keterangan Susno dahulu untuk menetapkan tersangka kasus tersebut.

Pekan lalu penyidik sudah memanggil Susno untuk memberi keterangan. Penyidik memanggil Susno karena dia orang yang mengungkap ke publik adanya makelar kasus dalam perkara arwana.

Namun pada pemanggilan pertama itu Susno menolak hadir. Alasannya, dalam surat pemanggilan hanya ada nama Susno sebagai saksi, namun tidak ada nama tersangka. Kepolisian pun melayangkan surat pemanggilan ke dua untuk Susno.

Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji menyatakan, siap serta dalam kondisi sehat untuk menjalankan pemeriksaan di Markas Besar Polri, pagi ini.

Susno Duadji akan menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus mafia arwana. Saat meninggalkan rumanya di Cinere, Depok, Jawa Barat, Susno didampingi pengacaranya, dengan berpakaian kedinasan lengkap.

"Saya siap sejak lama, dan semuanya berjalan dengan baik," kata Susno Duadji menjawab pertayaan wartawan.

Ditanya lagi, sejauh mana kesiapan kesehatan bapak menghadapi pertanyaan penyidik, dengan tegas Susno menyatakan, sehat seperti yang sudah-sudah. "Seperti yang sudah-sudah saya sehat, dan yang namanya siap yah siap semuanya, dunia akhirat," tuturnya sambil tertawa.

Menanggapi tudingan bahwa ia mengirim orang menemui Syahril Djohan di Singapura, untuk melakukan lobi-lobi, Susno mengatakan bahwa itu adalah berita bohong. "Untuk apa menanggapi satu kebohongan," ujarnya sambil masuk mobil dan meninggalkan wartawan.

Susno meninggalkan kediamannya pukul 07.45 WIB menuju Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus mafia arwana.
Kasus Arwana ini pertama kali muncul dari kuasa hukum Haposan Hutagalung, Viktor Nadapdap yang menyatakan kliennya pertama kali kenal dengan Susno dalam kasus arwana PT Salma Arwana Lestari di Riau pada 2008. Saat itu, Haposan menjadi kuasa hukum investor peternakan ikan arwana asal Singapura bernama Mr. Hoo.
Menurut Susno, dirinya datang tanpa mempermasalahkan surat panggilan kendati surat panggilan kedua mirip dengan panggilan pertama karena menghormati institusi Polri.

"Saya ini Polri aktif, apalagi saya mantan Kabareskrim. Saya cinta lembaga ini. Saya tidak ingin merusak nama baik Polri," kata mantan Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) ini.

Susno mengaku khawatir jika dirinya tidak datang memenuhi panggilan penyidik, maka bisa membuat citra Polri akan rusak.

Jika tidak datang, katanya, Polri akan memanggil paksa dirinya yang bisa menyebabkan adanya sikap arogansi.

"Jika arogan ke luar maka yang rugi bukan hanya Polri tapi saya juga rugi," kata mantan Kapolda Jawa Barat ini.

Susno diperiksa sebagai saksi kasus sengketa bisnis arwana antara pengusaha Indonesia dan Singapura di Pekanbaru, 2008.

Kasus perdata ini lalu menjadi pidana dan munculnya dua tersangka setelah disidik Polri saat Susno menjadi Kabareskrim.

Penyidik Polri menduga adanya penyimpangan dalam penyidikan karena ada makelar kasus (markus) yang bermain dalam kasus itu.

Kasus arwana ini terkait kasus Gayus karena ada dua tersangka kasus Gayus yang diduga terlibat dalam kasus arwana.

Dalam kasus ini, diduga ada aliran dana dari pihak yang berperkara kepada oknum Polri agar kasus perdata dapat dijadikan pidana.

Sebelum diperiksa dalam kasus arwana, penyidik Polri telah memeriksa Susno sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut, 20 hingga 22 April 2010 dalam kasus Gayus.

Dalam kasus pencucian uang Rp25 miliar milik Gayus Tambunan, staf Ditjen Pajak, Polri telah menetapkan delapan tersangka yakni Gayus, Andi Kosasih, Sjahril Djohan, Haposan Hutagalung, Lambertus. Alif Kuncoro, Kompol Arafat dan AKP Sri. (fn/km/tm/vs/ant) www.suaramedia.com












Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer