Home » » Selingkuh Dominasi Kasus Perceraian di Bitung

Selingkuh Dominasi Kasus Perceraian di Bitung

Written By Redaksi kabarsulawesi on Kamis, 13 Mei 2010 | 12:02 PM


MANADO, BITUNG - Memprihatinkan. Kasus perceraian di Kota Bitung, Sulawesi Utara, mengalami tumbuh subur pada awal tahun 2010. Indikasinya, Pengadilan Negeri (PN) Bitung ada 20 putusan kasus perceraian hingga bulan Mei. Begitu juga di Pengadilan Agama (PA) setempat menangani 35 gugatan cerai.

Menurut Hasna Harun, Wakil Panitera yang juga Humas PA Bitung, menginjak pertengahan Mei tahun 2010, kasus perceraian di PA Bitung mengalami peningkatan jika dibandingkan periode tahun 2009. Penyebab utama perceraian adalah pasangan berselingkuh.

"Hingga hari ini ada 35 perkara untuk gugatan cerai, tiga perkara voulenter tentang penetapan dan pengangkatan anak, serta sisa enam permohonan cerai pada tahun 2009," ujar Hasna kepada Tribun Manado di Bitung, Rabu (12/5/2010).

Menurut Hasna, 35 gugatan cerai itu terdiri dari cerai gugat dan cerai talak. Dimana cerai gugat yang pemohonnya dilakukan oleh wanita mendominasi (sebanyak 80 persen) dan sisanya cerai talak. "Rata-rata alasannya perselingkuhan dan umur rumah tangga yang telah dibina sudah 17-19 tahun," sesal Hasna.

Dari 35 gugatan cerai itu, kata Hasna, telah ada putusan cerai gugat tersebut sebanyak 20 perkara. Terdiri dari 12 sudah dikabulkan, lima dicabut,  satu gugur, satu niet onvantuallijke (tidak jelasnnya gugatan), dan satu ditolak. Juga telah ada satu putusan permohonan penetapan wali. "Rata-rata yang mengajukan permohonan cerai berprofesi ibu rumah tangga," jelas Hasna.

Kata Hasna, permohonan gugatan perceraian biasanya berkurang ketika bulan Ramadhan. "Ini mungkin menghormati bulan tersebut. Jadi mereka menahan untuk mengajukan permohonan perceraian," jelasnya.

Sementara untuk tingkat permohonan gugatan cerai pada tahun 2009, kata Hasna sebanyak 53 permohonan cerai. Sehingga jika dibandingkan dengan tahun 2010 yang baru memasuki pertengahan April sudah mencapai 35 permohonan perceraian maka ini menunjukan peningkatan yang signifikan.

"Jika belum empat bulan saja sudah 35 gugatan, bagaimana jika empat bulan berikutnya, dan empat bulan berikutnya pada tahun ini, bisa melebihi tahun lalu," jelas Hasna.  

Dari 35 permohonan gugatan ini, kata Hasna, para pemohon berada di enam kecamatan, yaitu Girian 12 kasus, Matuari 7 kasus, Maesa 9 kasus, Aertembaga 4 kasus, Lembeh Selatan dua kasus dan Madidir 1 kasus. Sehingga dengan meningkatnya tingkat perceraian ini, Hasna berharap para pasangan yang telah menikah untuk lebih menghargai arti suatu pernikahan.

"Mereka (pasangan yang telah menikah) juga harus mengerti dan memperdalam ilmu agamanya," jelas Hasna.

Saat ini, kata Hasna, belum ada satu pun gugatan yang telah diputus oleh PA Bitung diajukan banding ke Pengadilan Tinggi Manado karena tidak menerima putusan tersebut. "Belum ada yang banding," jelasnya.

Peran tokoh agama

Tingkat perceraian di PN Bitung juga meningkat jika dibandingkan periode Mei tahun 2010-2009. Menurut data yang terangkum di PN Bitung, kasus perceraian hingga akhir Mei tahun 2009 ada 17 putusan cerai. Sementara pertengahan bulan ini telah ada 20 putusan cerai.

"Penyebabnya perselingkuhan. Tetapi banyak juga penyebab perceraian seperti saat ini ada persidangan pencurian handphone yang dilakukan mantu dan dilaporkan oleh mertuannya," jelas Humas PN Bitung, Decky V Wagiu.

Oleh karena itu, kata Decky, sangat dibutuhkan peran dari para tokoh agama untuk meminimalkan perceraian ini. Meski mustahil untuk dihilangkan. "Tokoh agama harus lebih berperan untuk meminimalkan perceraian ini," jelasnya.

Dari data yang terangkum total jumlah putusan perceraian di PN Bitung selama tahun 2009 berjumlah 42 putusan cerai. Dan untuk tahun 2010 hingga pertengahan Mei tahun 2010 telah ada 20 putusan cerai. (*)

Tribun Manado: Reza Pahlevi
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer