Home » » Pemilukada Ricuh, Gedung dibakar, Korban Jiwa Melayang

Pemilukada Ricuh, Gedung dibakar, Korban Jiwa Melayang

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 26 Juni 2010 | 12:56 PM

Kabar Sulawesi : Sejumlah daerah di Sulsel yang menggelar Pemilukada ricuh. Aksi brutal massa pendukung pasangan calon saling bentrok dan melakukan pembakaran kantor KPU, Panwas dan gedung pemerintah. Kontributor Kabar Sulawesi, AR. Effendy melaporkan, di Kabupaten Soppeng, massa pendukung melakukan pembakaran gedung. Mereka tidak mengakui perhitungan suara. Di daerah lain, rusuh Pemilukada selain menimbulkan kerusakan, juga mengakibatkan gorban jiwa.




 'Incumbent' Menang, Kantor KPU Dibakar


MAKASSAR, KOMPAS.com — Massa salah satu pendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati Soppeng yang kalah dalam penghitungan perolehan suara membakar kantor Komisi Pemilihan Umum Soppeng, Sulawesi Selatan, Jumat (25/6/2010).
Pembakaran terjadi setelah mereka kecewa pada hasil penghitungan perolehan suara yang dilakukan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan KPU Soppeng.
"Petugas kepolisian yang melakukan pengamanan dari Polres Soppeng dan Brimob Polda Sulselbar sudah berhasil menghalau massa yang mulai beringas," kata Kapolda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Irjen Adang Rochjana melalui telepon.
Menurut dia, kantor KPU itu sekarang rata dengan tanah. Kendati demikian, pihaknya masih bersyukur karena berkas-berkas penting sudah diamankan oleh anggota KPU sebelum massa bertindak brutal.
Menurut dia, hasil penghitungan cepat menyebutkan, pasangan calon incumbent Andi Soetomo masih unggul dari pasangan lainnya sehingga memicu kemarahan massa pendukung calon yang kalah.
  
Bentrok di Tana Toraja, Seorang Tewas

Liputan6.com, Tana Toraja: Bentrokan terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ribuan pendukung lima calon bupati terlibat bentrokan dengan massa pasangan Theofilus Allorerung dan Adelheid Sosang di Jalan Bhayangkara Kota Makale, Kamis (24/6). Akibatnya, seorang tewas dan sebelas lainnya mengalami luka berat dan ringan.
Korban tewas diketahui bernama Palino, warga Desa Seseng, Bittuang, Tana Toraja. Dia tewas di Rumah Sakit Fatimah Makale akibat terkena anak panah di bagian dada kiri. Korban yang bekerja sebagai buruh bangunan terkena anak panah saat terjebak di tengah lokasi bentrokan antara pendukung lima pasang calon bupati dengan massa pemilih Theofilus Allorerung dan Adelheid Sosang.
Selain Palino, enam korban masih menjalani perawatan medis di Ruang Unit Gawat Darurat RS Fatimah Makale. Umumnya, korban mengalami luka di bagian kepala akibat sabetan senjata tajam. Sedangkan lima korban lain dirawat di RSU Lakipadada. Seorang di antaranya, Irwandi, dirawat dengan sebutir peluru senapan angin yang masih berada di dalam perut.
Informasi yang beredar menyebutkan, bentrokan berawal ketika ribuan massa hendak berunjuk rasa ke rumah dinas Bupati Tana Toraja Amping Situru. Massa pendukung yang kalah dalam pemilihan bupati beranggapan Amping berperan besar dalam kemenangan sementara Theofilus Allorerung dan Adelheid Sosang, yang juga merupakan istrinya.
Namun, sebelum tiba di rumah dinas bupati, kehadiran massa terlebih dahulu dihadang pendukung Amping Situru. Bentrokan pun tak dapat dihindari. Bahkan, kedua kubu ini saling serang dengan menggunakan senjata tajam, seperti parang.
Polisi tak sanggup melerai bentrokan tersebut karena jumlah personel yang terbatas. Bahkan, massa yang marah juga nyaris membakar rumah dinas Ketua DPRD Tana Toraja. Mereka tak terima dengan keunggulan sementara pasangan Theofilus Allorerung dan Adelheid Sosang yang diusung Partai Golkar.(ULF)

Pembakaran di Tana Toraja Masih Diselidiki

Liputan6.com, Makassar: Kepolisian Resor Kota Tana Toraja masih menyelidiki pembakaran rumah Ketua DPRD Tana Toraja Willem Sambolangi. Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Adang Rochjana mengatakan di Makassar, Sulsel, Kamis (24/6), pembakaran rumah Willem adalah bentuk pelanggaran pidana.
Sedangkan pelanggaran dalam Undang Undang Pemilu, tetap akan diselesaikan Komisi Pemilihan Umum dan Panitia Pengawas Pemilu. Sementara proses pidananya tetap akan ditangani polisi.
Pembakaran di rumah Willem terkait hasil pemilihan umum kepala daerah yang dilaksanakan secara serentak 23 Juni silam. Selain pembakaran rumah, massa juga mengamuk dan merusak Kantor KPU Tator, Panwas, Kantor Camat dan Kantor DPD II Golongan Karya.
Meskipun terjadi kericuhan di Kabupaten Tana Toraja, Adang mengatakan kerusuhan tak berlangsung lama. Hingga saat ini kondisi di Tator kembali kondusif. Ratusan personel kepolisian dari Polresta Tator serta "BKO" dari Brimob Polda Sulselbar berjaga-jaga di lokasi.
Kejadian itu mengundang simpati Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Ia meminta semua calon menyelesaikan sengketa pemilihan kepala daerah dengan jalur hukum .(Ant)

TNI Diminta Amankan Tana Toraja




TNI Diminta Amankan Tana Toraja


Makassar (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengharapkan pengiriman anggota TNI ke Kabupaten Tana Toraja untuk meredam kekisruhan yang terjadi pascapemilihan kepala daerah setempat.
"Pengiriman anggota TNI ke Kabupaten Tana Toraja bertujuan memback-up aparat kepolisian," kata Gubernur Syahrul Yasin Limpo, di Makassar, Jumat.
Aparat kepolisian yang ditugaskan menjaga keamanan di daerah itu dilaporkan kesulitan mengatasi bentrokan dan aksi perusakan yang dilakukan massa pendukung kandidat bupati dan wakil bupati.
Kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tana Toraja berawal setelah sejumlah lembaga survei merilis hasil penghitungan cepat yang menyebutkan pasangan Theofilus Allorerung-Adelheid Sosang unggul dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Tana Toraja.
Massa yang merasa kurang puas kemudian merusak kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan kantor Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu).
Bahkan, sehari pascapencoblosan terjadi bentrokan antarmassa, dan satu orang dilaporkan meninggal dunia, serta enam korban lainnya mengalami luka-luka.
Syahrul Yasin Limpo mengatakan jumlah anggota TNI yang diturunkan sebanyak satu satuan setingkat kompi, dan Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) akan terus menambah jumlah personelnya untuk mengantisipasi semakin memanasnya suasana di kabupaten itu.
Sementara itu, berdasarkan laporan yang masuk, kondisi di Kabupaten Tana Toraja berangsur-angsur kondusif.
Gubernur meminta kandidat yang tidak puas dengan proses pilkada dan hasil penghitungan cepat yang dilakukan lembaga survei, dapat meredam emosi massa pendukungnya.
"Kandidat bupati dan wakil bupati seharusnya mampu mengedepankan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi," kata Syahrul.
Selain merusak kantor KPU dan Panwaslu, massa juga merusak 12 kantor kecamatan, serta membakar surat suara, yang kasusnya saar ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Pendukung Cabup Gowa Saling Lempar Batu




Pendukung Cabup Gowa Saling Lempar Batu


Liputan6.com, Makassar: Massa dari dua kubu calon Bupati Gowa, Sulawesi Selatan, bentrok di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gowa, Jalan Mallombassang, Sulsel, Jumat (25/6). Pendukung pasangan cabup nomor urut dua Andi Maddusila Andi Idjo-Jamaluddin Rustam (AMAL) saling lempar batu dengan massa pasangan nomor urut empat Ichsan Yasil Limpo-Abd Razak Bajidu (IYL-BAJI) ketika keduanya berunjuk rasa di depan kantor KPU Gowa.
Aksi saling lempar batu yang terjadi di jalan raya itu membuat panik warga khususnya pengguna jalan. Aparat Kepolisian Resor Kota Gowa dan Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar serta Brimob Polda Sulselbar langsung melerai kedua massa dan memukul mundur mereka. Hingga saat ini massa dari AMAL masih menduduki KPU Gowa sambil melakukan orasi-orasi dan merapatkan barisan.(IAN/Ant)

-->

Mendagri: Sengketa Pilkada Selesaikan di Jalur Hukum

Liputan6.com, Makassar: Sengketa pemilihan kepala daerah di kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan mendapat perhatian serius Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Usai membuka Kejuaraan Nasional Karate di Makassar, Sulsel, Kamis (24/6), ia meminta semua calon menyelesaikan sengketa pemilihan kepala daerah dengan jalur hukum.
Gamawan tak ingin pemilihan kepala daerah tercedera adanya tindakan-tindakan anarki yang dilakukan para pendukung calon. Ia berharap pemilihan kepala daerah berjalan lancar dan aman demi kemashalatan rakyat.
Pemilihan kepala daerah Kabupaten Tana Toraja berakhir ricuh, Rabu malam silam. Di sana terjadi pembakaran kotak suara usai penghitungan. Pembakaran ini diduga dipicu salah satu pasang calon yang tak menerima kekakalahan dalam pilkada.(AIS)

Digoyang Ijasah Palsu



Pilkada Gowa Digoyang Isu Ijazah Palsu


Liputan6.com, Makassar: Ratusan warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, berunjuk rasa di Polwiltabes Makassar, Jumat (25/6), untuk meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan ijazah palsu salah satu calon bupati berinisial IYL. Massa yang menutup badan Jalan Ahmad Yani di depan Markas Polwiltabes Makassar menggelar mimbar bebas sambil berorasi.
Mereka membagikan selebaran kepada pengguna jalan, dan isi selebaran mengenai keterangan Kepala Sekolah SMP Negeri 27 Makassar bahwa IYL tidak pernah menjadi siswa di sekolah itu, dan menamatkan sekolahnya.
Pada surat keterangan tersebut juga dijelaskan bahwa IYL tidak pernah menjadi peserta ujian SMP Negeri Jongaya (sekarang SMP Negeri 27 Makassar) pada 1976 untuk mendapatkan surat tanda tamat belajar. Sedangkan nomor induk 1191 adalah milik salah seorang siswa yang saat itu terdaftar dengan nama Abd Rahman kelahiran Sapaya, Kabupaten Gowa.
Para pengunjuk rasa dalam orasinya meminta kepada pihak kepolisian agar segera memeriksa calon bupati "incumbent" IYL, sehingga kasus dugaan ijazah palsu ini segera tuntas.(ADO/Ant)


Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer