Home » » Stok Darah Golongan B di Jember Menipis

Stok Darah Golongan B di Jember Menipis

Written By Redaksi kabarsulawesi on Kamis, 22 Juli 2010 | 5:02 AM

Kabar Sulawesi : "Hingga Rabu siang, stok darah golongan B hanya satu kantong. Jumlah stok darah setiap jam berubah, baik penambahan maupun pengurangan kantong darah di UTD PMI," kata Dudung. Ia menjelaskan, UTD PMI Jember kesulitan mendapatkan pendonor darah golongan B, sehingga mobil UTD mencari stok darah hingga ke luar Kabupaten Jember.



Stok Darah Golongan B di Jember Menipis


Jember (ANTARA) - Jumlah stok darah golongan B yang tersedia di Unit Tranfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jember, Jawa Timur, menipis.
Wakil Kepala UTD PMI Jember, dr Dudung Ari Rusli, Rabu, mengatakan stok darah golongan B tinggal satu kantong, sedangkan stok darah A sebanyak enam kantong, golongan AB 20 kantong dan golongan O 11 kantong.
"Hingga Rabu siang, stok darah golongan B hanya satu kantong. Jumlah stok darah setiap jam berubah, baik penambahan maupun pengurangan kantong darah di UTD PMI," kata Dudung.
Ia menjelaskan, UTD PMI Jember kesulitan mendapatkan pendonor darah golongan B, sehingga mobil UTD mencari stok darah hingga ke luar Kabupaten Jember.
"Tidak ada larangan untuk mencari pendonor sukarela atau pendonor pengganti ke luar daerah, namun tetap berkoordinasi dengan UTD kabupaten setempat," tuturnya menambahkan.
Setiap bulan, lanjut dia, kebutuhan kantong darah di UTD PMI Jember sebanyak 1.200-1.500 kantong, sehingga pihaknya harus berupaya semaksimal mungkin untuk menyediakan stok kantong darah yang ada.
"Sebanyak 600 kantong yang tersedia di UTD PMI Jember habis dalam waktu dua minggu karena kebutuhan darah di sejumlah rumah sakit di Jember," ucapnya.
Untuk itu, kata dia, UTD PMI mengimbau masyarakat untuk mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawa manusia.
"Kesehatan pendonor yang melakukan donor darah secara rutin akan terjaga karena setiap kali mendonor, UTD PMI akan melakukan pengecekan terhadap virus yang masuk ke tubuh pendonor. Darah yang akan didonorkan harus bebas dari virus dan penyakit," paparnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat dalam memberikan setetes darah untuk warga yang memerlukan atau kekurangan darah karena operasi dan kecelakaan, terus meningkat.
UTD PMI Jember menerima sebanyak 50 kantong darah dari kegiatan yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Jember.
"Kami menerima bantuan 50 kantong darah dari MAN 1 Jember pada Rabu siang, namun biasanya golongan darah B jumlahnya sedikit," ujarnya menambahkan.
Menurut dia, stok darah di UTD PMI Jember akan semakin menipis selama bulan Ramadhan mendatang karena jumlah pendonor sukarela biasanya menurun. (pso-070)

Gubernur Sulsel: Rumah Bersalin Bukan Tempat Transaksi Susu Formula


REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR--Jawaban Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo atas rancangan peraturan daerah tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu dan Pembatasan Pengganti ASI mendapat interupsi dari legislator DPRD Sulsel.
"Secara substansial kami tidak menemukan jawaban yang linear tentang hubungan pemberian ASI dengan kecerdasan," kata juru bicara Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) Muchlis Panaungi mengomentari jawaban gubernur dalam sidang paripurna di Makassar, Rabu. Meski pada akhirnya FPAN sepakat ranperda tersebut diteruskan untuk dibahas di tingkat panitia khusus.
Pada pemandangan umum sebelumnya, FPAN memaparkan hasil penelitian di 10 negara yang 90 persen ibu menyusui bayinya namun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, sebaliknya di negara-negara Eropa dengan tingkat menyusui hanya 10 persen, namun IPM tinggi. FPAN juga menilai, ASI cukup diatur dalam bentuk imbauan atau peraturan gubernur, karena sifatnya lebih pribadi dan pelaksanaan perdanya cukup rumit.
Sementara Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) mendesak eksekutif agar meningkatkan sosialisasi sebelum perda tersebut ditetapkan. "Pemprov harus menggalakkan sosialisasi khususnya di Kota-kota agar ibu-ibu tertantang menyusui bayinya. Libatkan semua pihak seperti duta wisata, kalau perlu libatkan anggota DPRD perempuan," kata juru bicara FPPP Andi Mariattang.
Syahrul mengatakan PP-ASI dan PASI tidak bisa dalam bentuk imbauan maupun peraturan gubernur karena keduanya tidak membahas tentang sangsi. Dia juga menyatakan sudah membuat perjanjian dengan Pemerintah Kota Makassar dan UNICEF untuk membangun ruangan khusus ibu menyusui di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall Panakukang, Mall Ratu Indah, Mall GTC, Makassar Trade Centre, M-Tos.
Syahrul juga membantah bahwa perda yang melarang susu formula beredar dalam Rumah Sakit ini akan bertentangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan BPOM. "BPOM hanya mengatur standar makanan yang boleh beredar. Lagi pula Rumah Sakit Bersalin bukan tempat untuk bertransaksi susu formula," ucapnya.
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer