Home » » Selain Membakar Bendera dan Merusak Properti Kedubes, Demostran Suarakan "Ganyang Malaysia"

Selain Membakar Bendera dan Merusak Properti Kedubes, Demostran Suarakan "Ganyang Malaysia"

Written By Redaksi kabarsulawesi on Selasa, 17 Agustus 2010 | 11:45 PM

Kabar Sulawesi : Menlu Malaysia mengakui banyak masalah sengketa perbatasan dengan Indonesia yang masih harus diselesaikan. Soal batas wilayah, tambah dia akan dibicarakan September nanti di tataran teknis.
Sementara, hal yang sama akan dibicarakan di PBB oleh  menteri luar negeri masing-masing negara.
Hubungan kembali Indonesia dan Malaysia memanas akibat insiden Jumat 13 Agustus 2010.

"Telah terjadi pelanggaran perbatasan. Kita meminta hal ini tidak terulang lagi," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sebelum mengikuti upacara HUT RI ke-65 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 17 Agustus 2010.

Anggota Forum Studi Aksi Demokrasi (FOSAD) akan melakukan aksi Ganyang Malaysia. Aksi ini merupakan buntut insiden penyergapan kepolisian Malaysia terhadap tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) di Selat Malaka.

“Seruan ini efektif dilaksanakan sejak hari ini, Selasa, 17 Agustus 2010 sampai waktu yang tidak ditentukan,” kata Ketua FOSAD, Faisal Riza Rahmat, di Jakarta.

Organisasi kepemudaan, Pemuda Pancasila di Batam, membakar 70 bendera Malaysia, memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-65, Selasa akibat penangkapan tiga karyawan Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh petugas Malaysia .

"Upacara perayaan kemerdekaan kami kali ini spesial, kami membakar 70 bendera Malaysia," kata Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Batam, Moody Arnold Timisela.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Bersama Makassar berunjuk rasa mengecam tindakan Malaysia, Selasa (17/8). Mereka meminta pemerintah tidak tinggal diam dengan ulah Malaysia yang sudah kesekian kalinya menginjak harkat martabat negara. Kecaman ini terkait dengan penangkapan petugas Dinas Kelautan dan Perikanan oleh Malaysia beberapa waktu silam.

"Nelayan dipulangkan dan tiga orang Indonesia juga dipulangkan. Ini hanya isu kecil yang bisa dilakukan dengan persahabatan serumpun," kata Syed usai menghadiri Upacara HUT RI ke-65 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2010.

Menurut Syed, nelayan yang ditangkap petugas DKP hanyalah nelayan tradisional. Sebelum ditangkap petugas RI, mereka tengah mencari ikan di Selat Malaka yang merupakan wilayah sempit.  "Jadi ini bukan masalah serobot menyerobot."



Demo Kedubes Malaysia


VIVAnews - Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Anifah Aman menyesalkan tindakan para demonstran 'Ganyang Malaysia' yang disertai pengrusakan properti Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Menurut dia, tindakan itu tidak wajar, sehingga pihak Malaysia telah mengirim nota keberatan ke pemerintah RI.

"Ini sangat menyedihkan. Mengapa mereka perlu melakukan hal seperti itu hanya untuk menyampaikan pesan," kata Anifah, seperti dimuat laman Bernama, Selasa 17 Agustus 2010.

Ditambahkan dia, terkait tujuh nelayan Malaysia, meski telah dibebaskan, mereka bisa diperkarakan jika memang terbukti melanggar batas wilayah Indonesia.

Pembebasan tujuh nelayan, demikian juga dengan tiga staf Kementerian Kelautan dan Perikanan didasari sikap rasional dan semangat persahabatan dua negara. Apalagi, ini bulan Ramadan.

"Soal siapa yang benar dan salah, kami akan membicarakannya kemudian," tambah dia.

Menlu Malaysia mengakui banyak masalah sengketa perbatasan dengan Indonesia yang masih harus diselesaikan. Soal batas wilayah, tambah dia akan dibicarakan September nanti di tataran teknis.

Sementara, hal yang sama akan dibicarakan di PBB oleh  menteri luar negeri masing-masing negara.
Hubungan kembali Indonesia dan Malaysia memanas akibat insiden Jumat 13 Agustus 2010.

Polisi air Malaysia menangkap tiga staf kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang melaksanakan patroli dan menangkap tujuh nelayan Malaysia yang melanggar batas wilayah.

Baik tiga staf KKP maupun tujuh nelayan Malaysia telah dibebaskan, namun Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa menyatakan  Malaysia telah melanggar garis batas perbatasan kedua negara.

Atas pelanggaran batas wilayah perbatasan itu, Indonesia sudah melayangkan protes kepada Malaysia.
Di sisi lain, pihak Malaysia pun melayangkan protes atas pengrusakan properti kedutaannya di Indonesia yang dilakukan massa tertentu. (sj)

Kapal Perang TNI


VIVAnews - Tiga staf Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditangkap Malaysia akhirnya dibebaskan. Indonesia memastikan, Malaysia telah melanggar garis batas perbatasan kedua negara.

"Telah terjadi pelanggaran perbatasan. Kita meminta hal ini tidak terulang lagi," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sebelum mengikuti upacara HUT RI ke-65 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 17 Agustus 2010.

Marty menegaskan, tugas pertama sudah selesai. Yakni membebaskan tiga staf Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tugas kedua adalah menjaga kedaulatan.

"Tugas kedua memastikan yang menjadi kedaulatan kita tidak sejengkal pun kita kompromikan," tegas mantan juru bicara Departemen Luar Negeri ini.

Atas pelanggaran batas wilayah perbatasan itu, Indonesia sudah melayangkan protes kepada Malaysia. Indonesia meminta agar Malaysia tidak lagi mengulangi perbuatannya.

"Telah terjadi pelanggaran perbatasan. Kita sudah sampaikan protes," tegas Marty.

Insiden saling tangkap itu terjadi pada Jumat 13 Agustus lalu di perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Tiga staf Kementerian Kelautan dan Perikanan ditangkap karena diduga memasuki perairan Malaysia di Kota Tinggi.

Tiga warga negara Indonesia itu dibawa ke Malaysia karena membekuk tujuh nelayan Malaysia. Padahal, tujuh nelayan Malaysia yang ditangkap Indonesia itu telah melanggar garis batas perbatasan.

Police Marine Malaysia mengeluarkan tembakan peringatan ke arah staf Indonesia. Pagi tadi, akhirnya tiga warga Indonesia itu dibebaskan. Begitu juga tujuh nelayan Malaysia yang sudah dideportasi. (umi)

Ormas Demo Kedubes Malaysia


VIVAnews – Anggota Forum Studi Aksi Demokrasi (FOSAD) akan melakukan aksi Ganyang Malaysia. Aksi ini merupakan buntut insiden penyergapan kepolisian Malaysia terhadap tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) di Selat Malaka.

“Seruan ini efektif dilaksanakan sejak hari ini, Selasa, 17 Agustus 2010 sampai waktu yang tidak ditentukan,” kata Ketua FOSAD, Faisal Riza Rahmat, di Jakarta.

FOSAD merupakan organisasi yang anggotanya sebagian besar anak-anak veteran perang Kemerdekaan RI. Aksi ini, kata Fasial, bertujuan untuk meminta pemerintah RI bersikap tegas terhadap Malaysia. Sehingga pelecehan yang telah berulangkali dilakukan oleh Malaysia tidak terjadi lagi di masa mendatang

Aksi Ganyang Malaysia dilaksanakan dengan cara memaksa warga Malaysia pergi dari Indonesia. Selain itu, kata dia, dengan menutup paksa kantor dagang atau pun tempat bisnis milik warga Malaysia.

Faisal menambahkan aksi Ganyang Malaysia yang paling konkret akan dilaksanakan di Bandara Soekarno – Hatta dalam waktu dekat.

Massa FOSAD, kata Faisal, akan mengawasi terminal kedatangan luar negeri di bandara untuk mencegah masuknya warga Malaysia.

“Kami tidak anarkis, tapi bersikap tegas agar tidak terus dilecehkan. Dan saya selaku ketua FOSAD, siap mempertanggung jawabkan aksi ini dengan segala risikonya,” kata Faisal.

Aksi Ganyang Malaysia, kata Faizal, tidak hanya akan dilaksanakan di Jakarta. Aksi ini, juga akan dilakukan di sejumlah kota besar lainnya, seperti Jakarta, Bandung, Banten, Surabaya, Makassar, dan Medan.

Sebelumnya, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato' Syed Munshe Afdzaruddin Bin Syed Hassan, menyatakan insiden di perbatasan Indonesia-Malaysia yang terjadi pada akhir pekan lalu, sudah selesai.

Tiga petugas DKP yang disergap polisi Malaysia sudah dilepaskan. Kepolisian Indonesia sendiri juga telah melepaskan tujuh nelayan Malaysia yang sebelumnya ditangkap patrol DKP.

Pemuda Pancasila Batam Bakar 70 Bendera Malaysia


Batam (ANTARA) - Organisasi kepemudaan, Pemuda Pancasila di Batam, membakar 70 bendera Malaysia, memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-65, Selasa akibat penangkapan tiga karyawan Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh petugas Malaysia .

"Upacara perayaan kemerdekaan kami kali ini spesial, kami membakar 70 bendera Malaysia," kata Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Batam, Moody Arnold Timisela.

Pembakaran bendera Malaysia itu, kata Moody Arnold Timisela , merupakan bentuk kemarahan atas tindakan Pemerintah dan rakyat Malaysia yang menginjak kewibawaan Indonesia.

"Ini karena Malaysia keterlaluan. Wibawa bangsa ini terinjak-injak," kata dia.

Ia menjabarkan, di antara tindakan pemerintah dan rakyat Malaysia yang melecehkan Indonesia di antaranya pengklaiman reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, penganiayaan TKI, juga penahanan tiga orang staf Kementerian Kelautan dan Perikanan yang baru terjadi.

"Dan yang paling menyakitkan adalah pengubahan lagu Indonesia Raya beberapa waktu lalu," kata dia.
Mengenai angka 70, ia mengatakan tidak ada arti khusus.

Pembakaran bendera dilakukan di dua tempat, yaitu Terminal Feri Internasional Batam Centre dan halaman markas PP Batam.
Sebelum dibakar, anggota PP menyeret bendera Malaysia di jalanan.

Selain pembakaran 70 bendera Malaysia, maka anggota PP Batam juga membakar foto empat tokoh Malaysia, di antaranya mantan perdana menteri Tun Abdul Razak.

Foto Tun Abdul Razak dicorat-coret. Di dahinya terdapat silang, dibuat kumis dan matanya di coret bagaikan bajak laut.

Uang Malaysia senilai 20 ringgit juga ikut dibakar dalam upacara itu.
Menurut Moody, pebakaran mata uang Malaysia itu melambangkan niat untuk menghancurkan perekonomian Malaysia.

Pada kesempatan itu, Moody meminta Pemerintah Indonesia lebih tegas dalam berhadapan dengan Malaysia.
"Pemerintah pusat tidak pernah tegas," kata dia.

Anggota PP juga meminta agar seluruh warga Malaysia diusir dari Batam.
Anggota PP mencaci Malaysia dalam aksi pembakaran itu.

Mahasiswa Minta Pemerintah Ganyang Malaysia


Liputan6.com, Makassar: Puluhan mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan, yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Bersama Makassar berunjuk rasa mengecam tindakan Malaysia, Selasa (17/8). Mereka meminta pemerintah tidak tinggal diam dengan ulah Malaysia yang sudah kesekian kalinya menginjak harkat martabat negara. Kecaman ini terkait dengan penangkapan petugas Dinas Kelautan dan Perikanan oleh Malaysia beberapa waktu silam.

Menurut mahasiswa, Indonesia bukan negara lemah yang mudah diinjak-injak hak kedaulatannya oleh Malaysia. Negara itu, kata mahasiswa, sudah sering melakukan tindakan provokatif terhadap Indonesia, seperti masalah tenaga kerja.

Para pengunjuk rasa menilai sikap Malaysia sudah lewat batas sehingga tidak perlu lagi melayangkan nota protes. Kini saatnya Indonesia angkat senjata melawan kesewenang-wenangan Malaysia.(IAN)




Aktivis Bendera kencingi foto PM Malaysia Najib Razak


VIVAnews - Amarah terlihat jelas di wajahnya. Wajahnya merah, sorot matanya menusuk pada lembaran kain yang ia bentangkan. Bendera Malaysia. Jilatan api pada lembaran bergaris putih biru berukuran 100X80 itu pun menjadi pusat perhatiannya dan lima puluh orang lainnya.

"Ini hari bersejarah yang mengecewakan, karena ketidaktegasan pemerintah," teriak Aktivis Bendera Mustar Bona Ventura di kantornya, Selasa 17 Agustus 2010. Kekecewaan dia, tumpah melihat tiga Warga Negara Indonesia ditahan Kepolisian Malaysia.

Jumat malam pekan lalu, petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menangkap tujuh nelayan Malaysia. Di sisi lain, Patroli Marine Police Malaysia membekuk tiga petugas DKP.

Penangkapan tersebut menambah deretan panjang daftar persoalan antara Indonesia dan Malaysia. "Mereka sudah melakukan penyiksaan, klaim budaya, serta patokan batas wilayah dan masalah ini terjadi berulang-ulang," kata dia.

Mustar menuding, pemerintah Indonesia terlalu lambat dan tidak responsif terhadap insiden tersebut. Penahanan itu, hanyalah contoh kecil. "Ini adalah kesekiankalinya, bukan yang pertama Malaysia melakukan hal ini," turunya.

Tudingan lambat itu, tetap ia sampaikan meski pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementrian Kelautan dan Perikanan telah mengajukan protes kepada Pemerintah Malaysia.

"Pemerintah tidak memberikan upaya menyelesaikan, tidak ada posisi tawar yang kuat yang diberikan pemerintah," ujar Mustar.

Kekecewaan itu tak juga surut ketika Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan pemerintah Malaysia telah membebaskan tiga WNI itu. "Sampai mereka bebas fisik baru kami percaya," kata dia.

Mustar tetap memberikan ultimatum agar pemerintah Malaysia membebaskan tiga petugas KKP tersebut tanpa syarat dalam tempo 1x24 jam.

Bendera mengancam akan melakukan sweeping kepada warga Malaysia di Jakarta. "Jumlahnya akan dua kali lipat dari yang mereka tangkap," ujar dia. (umi)

Kapal Nelayan


VIVAnews – Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato' Syed Munshe Afdzaruddin Bin Syed Hassan, menyatakan pembebasan tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI dan tujuh nelayan Malaysia merupakan kesepakatan bersama antara kedua negara.

"Nelayan dipulangkan dan tiga orang Indonesia juga dipulangkan. Ini hanya isu kecil yang bisa dilakukan dengan persahabatan serumpun," kata Syed usai menghadiri Upacara HUT RI ke-65 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2010.

Menurut Syed, nelayan yang ditangkap petugas DKP hanyalah nelayan tradisional. Sebelum ditangkap petugas RI, mereka tengah mencari ikan di Selat Malaka yang merupakan wilayah sempit.  "Jadi ini bukan masalah serobot menyerobot."

Syed menekankan Malaysia tidak merasa bersalah dalam kasus ini, karena pelakunya hanya para nelayan tradisional. Apalagi, lanjut Syed, terkadang nelayan Indonesia juga memasuki perairan Malaysia.
Sebagai satu rumpun, kata Syed, berbagai permasalahan yang muncul ke permukaan haruslah dapat diselesaikan dalam konteks sahabat.

Selanjutnya, setelah pemulangan tiga petugas DKP dan tujuh nelayan Malaysia, Syed mengatakan kini sudah tidak ada lagi persoalan antara kedua negara. Kasus penangkapan itu sendiri, kata dia, selama ini juga tidak sampai mempengaruhi hubungan bilateral.

Terkait nota protes yang diajukan Malaysia karena adanya kasus perusakan terhadap Kedubes Malaysia, Sued mengatakan, "Malaysia hanya menyampaikan, karena ada kerusakan di depan itu. Jadi itu saja," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, membantah adanya barter pembebasan antara tiga petugas DKP yang ditahan di Malaysia dan tujuh nelayan Malaysia yang ditahan polisi Indonesia. (sj)

Aktivis Bendera kencingi foto PM Malaysia Najib Razak


VIVAnews - Amarah terlihat jelas di wajahnya. Wajahnya merah, sorot matanya menusuk pada lembaran kain yang ia bentangkan. Bendera Malaysia. Jilatan api pada lembaran bergaris putih biru berukuran 100X80 itu pun menjadi pusat perhatiannya dan lima puluh orang lainnya.

"Ini hari bersejarah yang mengecewakan, karena ketidaktegasan pemerintah," teriak Aktivis Bendera Mustar Bona Ventura di kantornya, Selasa 17 Agustus 2010. Kekecewaan dia, tumpah melihat tiga Warga Negara Indonesia ditahan Kepolisian Malaysia.

Jumat malam pekan lalu, petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menangkap tujuh nelayan Malaysia. Di sisi lain, Patroli Marine Police Malaysia membekuk tiga petugas DKP.

Penangkapan tersebut menambah deretan panjang daftar persoalan antara Indonesia dan Malaysia. "Mereka sudah melakukan penyiksaan, klaim budaya, serta patokan batas wilayah dan masalah ini terjadi berulang-ulang," kata dia.

Mustar menuding, pemerintah Indonesia terlalu lambat dan tidak responsif terhadap insiden tersebut. Penahanan itu, hanyalah contoh kecil. "Ini adalah kesekiankalinya, bukan yang pertama Malaysia melakukan hal ini," turunya.

Tudingan lambat itu, tetap ia sampaikan meski pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementrian Kelautan dan Perikanan telah mengajukan protes kepada Pemerintah Malaysia.

"Pemerintah tidak memberikan upaya menyelesaikan, tidak ada posisi tawar yang kuat yang diberikan pemerintah," ujar Mustar.

Kekecewaan itu tak juga surut ketika Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan pemerintah Malaysia telah membebaskan tiga WNI itu. "Sampai mereka bebas fisik baru kami percaya," kata dia.

Mustar tetap memberikan ultimatum agar pemerintah Malaysia membebaskan tiga petugas KKP tersebut tanpa syarat dalam tempo 1x24 jam.

Bendera mengancam akan melakukan sweeping kepada warga Malaysia di Jakarta. "Jumlahnya akan dua kali lipat dari yang mereka tangkap," ujar dia. (umi)

Video Berita : Kronologi Penangkapan Petugas KKP





Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer