Home » » Menculik Dan Mengambil Organ Tubuh Sekedar Mengalihan Issu ?

Menculik Dan Mengambil Organ Tubuh Sekedar Mengalihan Issu ?

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 05 Februari 2011 | 11:00 AM

Kabarsulawesi : Isu penculikan anak dengan pengambilan organ tubuh yang beredar via pesan pendek (SMS) dan selebaran, makin meresahkan. Bukan hanya mengganggu ketenangan masyarakat, isu ini juga telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Isu penculikan anak yang disebarkan via SMS dan selebaran kembali memakan korban. Kali ini, tiga pemuda menjadi korban main hakim warga. Ketiga pemuda yang dikejar dari Galesong Utara, Takalar itu kemudian diadang dan dimassa di Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, malam tadi.

Informasi diperoleh, ketiganya menggunakan mobil jenis Avanza dan dicurigai warga merupakan komplotan penculik seperti SMS dan selebaran yang beredar. Mereka kemudian diteriaki dan dikejar hingga Barombong. Ketiga pemuda nahas itu bernama Anjas, 25, Hardiono, 26, dan Bambang, 30.

Korban masih dirawat intensif di Unit Gawat Darurat (UGD) RS Polri Bhayangkara. Ketiganya mengalami luka robek dan memar di kepala. Khusus Hardiono, lukanya tergolong parah karena patah pada tulang kepala dihantam besi dan balok oleh massa.

Mauluddin menjelaskan, meski lukanya cukup serius ketiga korban masih sadar dan menjalani perawatan intensif tim dokter. “Kasihan, ketiganya hanyalah korban isu yang tak benar,” kata Mauluddin.


Sementara itu, aparat kepolisian resor Gowa akhirnya berhasil mengungkapkan identitas korban yang tewas akibat diamuk massa di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, Rabu, 2 Februari lalu.

Korban tewas adalah Agusriyanto, 22. Korban diketahui berprofesi sebagai tenaga pemasaran buku PT Intan Pariwara yang selama ini bertugas di Bulukumba. Agus adalah warga Kecamatan Belang Wetan, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam konferensi pers di Polres Gowa, Kamis, 3 Februari Kapolres Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Totok Lisdiarto mengatakan, Agus adalah korban isu penculikan anak, bukan penculik.

Totok menjelaskan, Agus datang ke Gowa bersama Andi Mulyadi dengan mobil rental jenis Avanza. Tujuannya untuk mengantar Siska Indira alias Lampe, 15, dan kakaknya, Mantasia alias Melisa, 25, yang sebelumnya dijemput di rumah kosnya di Jalan Nuri Makassar.

Totok menambahkan, saat ini aparat kepolisian sudah mengantongi satu nama yang diduga pemicu aksi kekerasan tersebut. Hanya saja, pihaknya belum memberikan keterangan tentang nama yang dikantongi itu dengan alasan penyelidikan.

“Intinya kita harus tenangkan kondisi dulu. Nanti kalau sudah tenang, baru kita tangkap pelakunya,” jelasnya.

Totok menambahkan, saat ini Melisa, Andi Mulyadi dan Siska sementara diamankan oleh aparat Polres Gowa.

Dokter Forensik RS Polri Bhayangkara, Ajun Komisaris Polisi Mauluddin menjelaskan, mayat korban sudah diautopsi dan tidak ditemukan ciri-ciri tato kawat di leher seperti isu yang berkembang. Mauluddin pun memastikan korban bukan pelaku penculikan. “Korban mengalami luka memar berat di kepala serta beberapa luka tusuk di leher dan perut,” jelasnya.

Malam tadi jenazah Agus sudah dijemput perwakilan perusahaan distribusi buku PT Intan Pariwara bernama Harmadi dan Langgeng untuk dibawa ke kampung halamannya di Klaten.

Fakta itu membuat gerah Kapolda Sulsel, Inspektur Jenderal Polisi Johny Wainal Usman. Kapolda pun langsung membentuk tim khusus yang bertugas menelusuri pelaku penyebar SMS dan selebaran berantai itu. Alasannya, pesan tentang adanya sekelompok penculik untuk mengambil organ tubuh manusia sama sekali tidak terbukti.


“Saya minta masyarakat tidak terpancing dengan isu itu. Sama sekali tidak benar ada pelaku penculikan mengincar organ tubuh manusia. Saya sudah konfirmasi ke semua polres dan polsek, tidak ada orang yang diculik,” kata Johny, saat jumpa pers di Warkop Dottoro Tinumbu, Kamis, 3 Februari.

Untuk menghindari bertambahnya korban salah sasaran, Kapolda meminta masyarakat tidak main hakim sendiri jika menemukan oknum yang dicurigai. Dia juga berharap masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing dengan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kita minta masyarakat tidak mudah terpancing. Juga jangan main hakim sendiri,” ucap Johny.

Sumber : Fajar


Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer