Home » » Politisi Plus Aktor Itu Telah Pergi Diusia Muda

Politisi Plus Aktor Itu Telah Pergi Diusia Muda

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 05 Februari 2011 | 10:33 AM


 Kabarsulawesi : Raden Pandji Chandra Pratomo Samiadji Massaid atau lebih dikenal dengan nama Adjie Massaid, meninggal dunia seusai bermain futsal, Sabtu (5/2) dini hari. Ia meninggal pada 43 tahun.

Kabar meninggalnya Adjie diterima Harry sekitar pukul 03.00 melalui pesan singkat dan pesan berjaringan di BlackBerry Messanger. "Informasi resmi kemudian juga datang dari Ketua Fraksi, Djafar Hafsah," katanya. Menurut informasi yang diterimanya, Adjie meninggal dunia karena serangan jantung, seusai bermain futsal.

Angelina Sondakh, Puteri Indonesia 2001 yang menjadi istri almarhum Adjie Massaid, menyimpan kenangan indah tentang politisi Partai Demokrat yang meninggal, Sabtu (5/2/2011). Semula, Adjie yang naksir pada Angelina, begitulah tertulis pada diarinya. Beberapa kali Adjie mengirim salam. Namun, Angelina Sondakh selalu berusaha tidak meresponsnya.

Angelina Sondakh merasa Adjie Massaid tipe lelaki yang berbaik hati kepada semua orang. Berikut ini adalah catatan Angelina Sondakh di blog-nya tentang suaminya itu, tertanggal 25 Januari 2006, sekitar setahun setelah mereka menikah, sebagaimana dikutip Tribunnews.com, Sabtu.

ADJI MASSAID (The man I once ignored). Aku mengenal nama Adji Massaid sudah cukup lama. Namanya memang sudah tidak asing lagi dalam dunia perfilman dan persinetronan. Namun itu hanya sebatas mengenal dan sekedar tahu saja. Pada saat itu kami sama-sama masih menjadi calon legeslatif dari Partai Demokrat. Pertemuan partai, rapat – rapat partai dan kegiatan – kegiatan di partai membuat kami pun sering bertemu. Apalagi pada kesempatan mensukseskan calon Presiden Partai Demokrat : Susilo Bambang Yudhoyono.

Jujur, saat itu aku tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Adji dan lebih daripada itu rasanya kami berdua pun tidak tertarik untuk ingin mengenal satu sama lain lebih jauh. Pembicaraan kami hanya sebatas pekerjaan, tidak pernah melewati batas privasi masing – masing. Rasanya kami berdua cukup memahami posisi masing – masing, sehingga kalaupun harus berbicara pasti topiknya tidak lari dari partai dan pemenangan pemilu.

Sebenarnya latar belakang public figure-lah yang membawa kami bergabung di Partai Demokrat (kami diajak oleh Sys NS untuk bergabung di PD, thank you mas Sys). Kami juga tergolong generasi muda. Dan sebenarnya, inilah yang bisa menjadi alasan rasional untuk membangun komunikasi diantara kami. Tapi entahlah …. saat itu saya sibuk dengan aktifitas sehari-hari dan dia juga sepertinya begitu. Yang pasti, pertama kali mengenal Adji kami berdua sedang tidak sendiri. Saya pada waktu itu sedang merajut asmara dengan seseorang begitupun Adji yang masih terikat perkawinan. Kami pun menghargai pasangan kami masing-masing.

Hari – hari di DPR saya lalui dengan penuh semangat ingin belajar dan belajar. Saya mulai menikmati ritme kerja yang benar-benar baru bagi saya. Dalam jadwal saya yang padat di gedung parlemen, sering saya bertemu dengan Adji namun itu sebatas, “say hello” saja. Pernah kami tidak sengaja bertemu di ruangan kerja salah satu teman fraksi, saat itu Adji sempat mengajak saya berdiskusi soal apa pendapat masyarakat tentang permasalahannya. Tapi saya enggan berkomentar terlalu banyak. Setelah saya beranjak dari ruangan tersebut ternyata Adji menitipkan pesan untuk disampaikan kepada saya bahwa dia tertarik dengan saya. Itupun saya tidak menanggapi secara serius tapi saya tanggapi secara ringan dengan memberikan support kepada Adji untuk tetap bertahan walau seberat apapun permasalahannya.

Walaupun demikian saat itu tidak ada perasaan yang ‘lain’ yang saya rasakan dan memang kamipun akhirnya berada dalam komisi yang berbeda. Ini jugalah yang membuat kami jarang sekali bertemu dan jarang berkomunikasi. Kami hanya bertemu pada rapat fraksi setiap jumat dan itu pun minim sekali interaksinya. Dia selalu duduk di sayap barat dan saya di sayap timur. Nothing special. Dia kuanggap sebagai teman biasa saja. Nothing more. Bukan Adji namanya kalau tidak terus mencoba dan mencoba. Sering aku dikirimi salam melalui orang-orang yang tinggal bersama saya.

“Ibu, ada salam dari Pak Adji’ tutur pembantu saya.

Namun aku selalu mengabaikannya. Bahkan terkadang walaupun ada ‘godaan-godaan’ kecil, itu selalu kuanggap ‘dasar laki-laki’. Pernah juga Adji memanggil nama saya lewat speaker sidang …. Angie! Dengan tatapannya yang ‘romantis semu’ namun saya pada waktu itu masih bisa menyakinkan diri saya bahwa itulah Adji. He is treating every woman like that because he is nice to everybody. Saya hanya tidak ingin menanggapi mas Adji serius, walaupun terkadang ketika bertemu dia selalu memberikan pujian….sekali lagi itu kuanggap sebagai basa – basi saja and Yes he is doing it to everybody. Pernah juga Adji menyampaikan kekagumannya pada saya lewat teman se-partai, pada waktu itu saya hanya menanggapi dengan kata-kata: ‘kayak nggak tahu Adji aja’. Tapi saya tetap menganggap Adji sebagai sahabat dan itu tidak mengurangi rasa persahabatan saya dengan dia dalam konteks kepentingan partai tentunnya.

Setelah beberapa waktu lamanya, sayapun akhirnya sendiri dan Adjipun sepertinya mulai menikmati kesendiriannya. Walaupun saya selalu mendengar bahwa Adji tidak pernah benar – benar sendiri, karena Adji adalah tipe orang yang easy going dan ingin bersahabat dengan siapa saja. Pernah suatu waktu dalam pertemuan partai seorang teman mengatakan: ‘Angie, Adji kirim salam ….. kayaknya dia naksir sama kamu’. Terus saya jawab dengan bergurau: “Keep trying hard, I need to see more effort”. Karena berbagai kesibukan, kami pun semakin jarang berkomunkasi. Namun tetap saja Adji selalu kirim salam melalui staff saya. Dan itupun saya tidak membalas salamnya, karena saya menganggap itu adalah gombalnya laki-laki. Yaah…itulah yang ada dibenak saya pada waktu itu : Adji termasuk laki-laki yang baik ke semua orang. Jadi biarlah aku menganggap semua itu sebagai angin lalu saja. Dan dalam hatiku …… Gombal.

Saya selalu menghindar dari Adji dalam setiap kesempatan. Bahkan pada setiap kunjungan partai ke daerah, saya selalu menanyakan asisten saya, apakah Adji ikut dalam rombongan. Dan saya pesankan, kalau ada, tolong diusahakan agar seat saya terpisah dengan Adji. Sebagaimana foto yang saya tampilkan dalam webblogs ini. Mungkin dapat bercerita banyak tentang penolakan saya terhadap Adji. Tapi semua itu akhirnya luluh lantah…………

Berikut adalah profil singkatnya:

Ia lahir di Jakarta, 7 Agustus 1967, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara keluarga Raden Pandji Sujono Tjondro Adiningrat. Adjie yang keturunan Jawa-Madura-Belanda itu menghabiskan masa kanak-kanak dan bersekolah tingkat dasar di Rawamangun, Jakarta Timur. Tahun 1975, ia mengikuti keluarganya pindah ke Belanda.
Adjie memulai kariernya sebagai model di panggung catwalk, lalu sebagai foto model sejak 1980-an. Ia juga menjajal dunia peran, antara lain bermain dalam film karya Garin Nugroho, Cinta Dalam Sepotong Roti, pada tahun 1990.
Popularitasnya sebagai model dan aktor menjadi modal ketika ia kemudian beralih ke panggung politik. Namun, karier sebagai politisi bukan barang baru baginya karena ia berasal dari keluarga politisi (bupati) Pasuruan. Ia menjadi anggota DPR-RI periode 2004-2009 dan 2009-2014 dari Partai Demokrat. Selain aktif sebagai politisi, Adjie juga Manajer Timnas U-23.
Adjie menikah dengan penyanyi Reza Artamevia pada tahun 1999. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak bernama Zahwa dan Aaliya. Pasangan tersebut bercerai pada 2005. Ia untuk beberapa lama membujang, sebelum akhirnya menikah dengan Angelina Sondakh, mantan Puteri Indonesia yang juga anggota DPR-RI untuk Partai Golkar (dan pada periode 2009-2014 untuk Partai Demokrat). Keduanya menikah pada April 2009 dan kini memiliki anak.
Jenazah anggota DPR, Adjie Massaid, yang meninggal dunia pada Sabtu (4/2/2011) dini hari, menurut rencana akan disemayamkan di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, pada pukul 10.00. Demikian informasi resmi Fraksi Demokrat, sebagaimana disampaikan salah satu Ketua Kelompok Fraksi Demokrat, Harry Witjaksono, saat dihubungi Kompas.com, pagi ini.
"Seluruh anggota sudah menerima informasi resmi fraksi, akan disemayamkan di DPR pukul 10.00 pagi ini, setelah disemayamkan di rumah duka, Cilandak," terang Harry.
Jenazah Adjie, sebelum dimakamkan juga akan dishalatkan di masjid DPR. Jenazah akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.
Jenazah Anggota DPR asal Fraksi Partai Demokrat, Adjie Massaid, menurut rencana akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta, seusai shalat Dzuhur.
Informasi lokasi pemakaman Adjie disampaikan Sekretaris Fraksi Demokrat sekaligus Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Saan Mustopa, kepada Kompas.com, Sabtu (4/2/2011) pagi.
"Menurut rencana, dari informasi keluarga akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut setelah Dzuhur," kata Saan.
Adjie Massaid meninggal dunia dini hari tadi, setelah terkena serangan jantung. Menurut informasi, sebelumnya anggota Komisi V itu sempat melakukan olahraga futsal.
Sebelum dimakamkan, Adjie akan disemayamkan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta pada pukul 10.00 dan dishalatkan di masjid DPR. "Kami sangat kehilangan," ujar Saan.
Partai Demokrat menyatakan kehilangan yang sangat mendalam atas meninggalnya politisi muda Adjie Massaid. Adjie meninggal pada Sabtu (4/2/2011) dini hari, setelah bermain futsal dan menurut pihak Partai Demokrat, ia terkena serangan jantung.
Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Saan Mustopa mengatakan, Adjie adalah aset untuk masa depan Demokrat. "Kami merasa sangat kehilangan, karena Beliau aset muda yang dimiliki Demokrat dan selalu bekerja keras untuk partai," kata Saan saat dihubungi Kompas.com, pagi ini.

Anggota Dewan asal daerah pemilihan Jawa Timur itu, menurut Saan, dikenal ulet dalam bekerja. Adjie juga dinilai menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik sebagai Ketua Kelompok Fraksi Demokrat di Komisi V DPR. Rekan satu fraksi Adjie, Harry Witjaksono menilai Almarhum sebagai sosok yang humoris. Ia mengatakan, pada rapat internal fraksi yang digelar kemarin, Adjie menampilkan performa yang tidak biasa.
"Laporannya sangat sempurna. Mas Adjie membacakan laporan kelompok fraksinya di Komisi V secara rapi. Biasanya kami hanya menyampaikannya poin per poin, ini tidak. Dia membacakannya secara tertulis dan runtut," ujar Harry, anggota Komisi III DPR.
Menurut rencana, jenazah Adjie yang saat ini disemayamkan di rumah duka, Taman Cilandak, Jakarta, akan disemayamkan di Gedung DPR pada pukul 10.00. Selanjutnya, akan dilangsungkan shalat jenazah di masjid DPR, sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.
Sumber/foto : KOMPAS.com

Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer