Home » » Waria Juga Punya Cita-Cita

Waria Juga Punya Cita-Cita

Written By Redaksi kabarsulawesi on Kamis, 17 November 2011 | 12:06 AM


Kabar Sulawesi – Makassar : Tidak mudah menjadi seorang transgender. Banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Bukan hanya tantangan dari  keluarga, melainkan juga masyarakat.Namun, di tengah penolakan dan cibiran yang datang,mereka mampu eksis, bahkan sukses di bidangnya.

Ditepi jalan depan sebuah sekolah dan bersebelahan dengan sebuah lapangan di jantung kota Makassar merupakan tempat favorit warga kota Palangkaraya untuk berolahraga. Namun di malam hari, tempat ini menjadi ajang bagi puluhan kaum waria mengais rezeki dengan menjajakan diri kepada kaum lelaki penikmat seks waria.

Clara, Hesti, Selvi, Mega dan Aknes, adalah 4 dari puluhan waria yang menjajakan diri di Lapangan Olahraga Sanaman Mantike, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Mereka mengaku hampir setiap malam menjajakan diri melayani keinginan lelaki menikmat seks waria dikawasan tersebut. Mereka memasang tarif antara 25 ribu hingga 50 ribu rupiah sekali kencan.

Namun tarif tersebut bukanlah harga mati, sebab tidak jarang jika lelaki yang datang tergolong berusia muda, mereka hanya dibayar dibawah tarif. Bahkan tak jarang mereka tak membayar sama sekali.

Di siang hari, kebanyakan para waria ini adalah pekerja di salon-salon kecantikan. Kepada para tamu teman kencannya, mereka mempromosikan agar mengunjungi salon tempat mereka bekerja. Namun ada pula yang menerima tamu kencannya di tempat kost mereka.Namun tamu kencan para waria ini hanyalah pelanggan setianya saja.

Clara, bukan warga asli kotaMakassar, Ia datang dari daerah dan terjun ke dunia waria karena dirinya minggat dari rumah. Waria yang mengaku anak bungsu dari 8 bersaudara ini, nekad meninggalkan kedua orang tuanya, karena keberadaannya sebagai waria.

“Aku terpaksa lari dari rumah, karena penampilan saya yang kewanitaan, sementara orang tua aku tetap memaksa aku menjadi seorang lelaki tulen.” Ungkap Clara.
Untuk membiayai kedupannya, Clara semula bekerja di sebuah Salon Kecantikan milik temannya. Namun tidak lama, iapun berhenti.

“Karena pergaulan dengan teman-teman aku, akhirnya aku jadi begini.” Aku Clara.

Clara mengakui, ditengah kehidupan malam perkotaan yang terkenal keras itu, ia bias membiayai kehidupannya sehari-hari. Ia mengakui bisa mengantongi uang 200 hingga 300 ribu rupiah semalam dari hasil memuaskan nafsu para lelakipenikmat seks waria,ditambah membuka “praktek” seks di tempat kosnya.

Namun pekerjaan yang digeluti Clara dan teman-temannya kerap ada yang menghantui para waria ini. Mereka harus merelakan sebagian dari rezeki yang diperoleh untuk preman-preman serta oknum aparat keamanan yang meminta uang rokok. Bahkan tidak itu saja, penyakit HIV/AIDS yang virusnya menyerang kekebalan tubuh, rentan terhadap mereka. (admin)


Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer