Home » » Hentikan serangan terhadap komunitas Syiah

Hentikan serangan terhadap komunitas Syiah

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 01 September 2012 | 8:03 PM

kabarsulawesi – London : Pada pagi hari tanggal 26 Agustus 2012 massa anti-Syiah sekitar 500 orang dengan senjata tajam dan batu menyerang sebuah komunitas Syiah di desa Nangkrenang di Sampang, pulau Madura. Muhammad Hasyim tewas karena bacokan, sementara korban lain, Muhammad Thohir, berada dalam kondisi kritis. Batu dilemparkan oleh massa melukai puluhan orang lain. Setidaknya empat orang dengan luka serius dirawat di rumah sakit Sampang. Tiga puluh lima rumah milik masyarakat Syiah juga dibakar oleh massa. Banyak dari masyarakat telah meninggalkan desa untuk bersembunyi. Lainnya telah dievakuasi ke tempat penampungan sementara di sebuah kompleks olahraga di Sampang.
.
Josef Roy Benedict Perwakilan Amnesty International untuk Indonesia – Timor Leste melalui emailnya yang dikirim ke email Kantor Berita kabarsulawesi.com mengatakan, menyambut baik laporan bahwa Presiden telah menyerukan tindakan tegas dalam menanggapi insiden itu dan bahwa polisi Sampang telah menangkap setidaknya delapan orang yang diduga terlibat dalam serangan itu. Namun, kegagalan pemerintah Indonesia dalam menangani serangan sebelumnya, terhadap komunitas Syiah, menimbulkan pertanyaan serius tentang kesediaannya untuk memastikan bahwa pelaku serangan Sampang dibawa ke pengadilan, untuk memberikan korban reparasi, dan untuk mencegah lanjut serangan terhadap kelompok minoritas.
.
Komunitas Syiah di pulau Madura telah diintimidasi dan diserang sebelumnya. Pada tanggal 29 Desember 2011, massa membakar tempat ibadah, pesantren, dan rumah-rumah sekitarnya. Pasukan keamanan terlihat melakukan penggambaran dan menonton serangan ketika ia terjadi. Hanya satu orang akhirnya dituntut dan dijatuhi hukuman penjara tiga bulan atas serangan itu.

Menyusul insiden Desember, Tajul Muluk, seorang pemimpin Syiah dari komunitas di Sampang, dijatuhi hukuman dua tahun penjara untuk penodaan agama. Amnesty International menganggap Tajul Muluk sebagai tawanan hati nurani (prisoner of consicence), dipenjarakan semata-mata karena mengekspresi haknya untuk kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama.

Amnesty International juga menyerukan kepada otoritas Indonesia untuk menyelidiki laporan bahwa Polsek Omben memiliki pengetahuan sebelumnya tentang ancaman terhadap komunitas Syiah tetapi tidak mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan terhadap serangan baru-baru ini, termasuk mobilisasi jumlah personal yang memadai. Menurut Komnas HAM hanya lima personel polisi berada di tempat kejadian. Sebagai negara pihak kepada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR), Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin hak untuk hidup, keamanan dan kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya. Berdasarkan Pasal 2 (1) ICCPR, perlindungan tersebut harus diberikan tanpa diskriminasi, termasuk atas dasar agama.
Amnesty International terus menerima laporan serangan dan intimidasi terhadap kelompok agama minoritas di Indonesia, termasuk Syiah, Ahmadiyah dan komunitas Kristen. Banyak masyarakat telah mengungsi akibat serangan termasuk pembakaran, dan dalam banyak kasus para pelaku tidak dihukum. Sudah tiba saatnya, Indonesia mengembangkan strategi konkret untuk mencegah dan menanggapi insiden kekerasan berbasis agama, termasuk penguatan untuk mendorong penghormatan terhadap kebebasan beragama dan toleransi beragama yang jelas memburuk dalam beberapa tahun terakhir. (admin)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer