Home » » Hilangnya Aktivis Pro Demokrasi, LSM Luar Negeri Buat Surat Ke SBY

Hilangnya Aktivis Pro Demokrasi, LSM Luar Negeri Buat Surat Ke SBY

Written By Redaksi kabarsulawesi on Minggu, 02 September 2012 | 10:25 AM


Kabarsulawesi – London : Terkait hilangnya 13  aktivis pro-demokrasi yang diduga diculik terjadi   pada  tahun 1997  dan   1998, lembaga Amnesty International bersama 3 LSM luar negeri ; International Commission of Jurists (ICJ), International Federation for Human Rights (FIDH) dan FORUM-ASIA  mendesak Presiden Indonesia untuk menuntas kasus 13 aktivis pro-demokrasi yang dihilangkan secara paksa pada tahun 1997-1998.
 
Desakan penuntasan kasus penculikan terhadap para aktivis pro demokrasi ini, 4 LSM luar negei itu membuat surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono.
surat terbuka dikirim Josef Roy Benedict Campaigner - Indonesia & Timor-Leste
Amnesty International melalui e-mail di
kbrsulawesi@gmail.com :


30  Agustus  2012

H.E. Susilo  Bambang Yudhoyono
Presiden, Republik  Indonesia

SURAT TERBUKA: TUNTASKAN PENGHILANGAN PAKSA 13 AKTIVIS POLITIK PADA TAHUN 1997-98


Bapak  Presiden,

Sebagai dukungan penuh  kampanye pembela  hak  asasi  manusia di  Indonesia seputar Hari  Internasional Korban Penghilangan  Paksa,  kami   mendesak  Anda  untuk   memastikan  keadilan  bagi   13   aktivis  pro-demokrasi  yang dihilangkan secara paksa  pada  tahun 1997 dan  1998: Sonny,  Yani  Afri, Ismail, Abdun  Nasser, Dedi  Hamdun, Noval  Alkatiri,  Wiji Thukul,  Suyat,  Herman  Hendrawan, Bimo  Petrus Anugerah,   Ucok  Munandar Siahaan,  Yadin Muhidin  dan  Hendra   Hambali. Lebih  dari  satu   dekade telah  berlalu   sejak  mereka   hilang  dan  keluarga   mereka masih   menunggu  kebenaran  tentang  nasib   orang  yang  mereka   cintai.  Mereka   juga   menunggu  reparasi  bagi penderitaan mereka  selama bertahun-tahun tanpa mengetahui keberadaan orang yang mereka  cintai.

Komisi Nasional  Hak Asasi Manusia  Indonesia (Komnas  HAM) telah  menyerahkan pada  tahun 2006 Laporan  Akhir terkait  Penyelidikan Penghilangan Paksa, mengungkapkan bahwa  setidaknya 13  aktivis pro-demokrasi masih  hilang dari   sejumlah  penculikan  yang  terjadi   pada   tahun 1997  dan   1998. Komnas   HAM telah   merekomendasikan pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia  ad hoc dan menyelidiki  mereka  yang diduga  ada  pertanggungjawaban pidana   dalam    penculikan  tersebut.   Pada   bulan    September  2009,   Dewan   Perwakilan   Rakyat    (DPR)   RI mengeluarkan   rekomendasi   yang  menggemakan   rekomendasi   Komnas    HAM,   terutama  untuk    membentuk Pengadilan HAM ad hoc dan memberikan rehabilitasi dan  kompensasi kepada keluarga  korban.

Berdasarkan Pasal  43   UU No. 26/2000  tentang Pengadilan HAM di Indonesia, kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia berat  yang terjadi  sebelum tahun 2000 harus  disidangkan oleh  Pengadilan HAM ad hoc. Undang-undang ini  juga  menyebutkan  bahwa   Presiden  harus   menetapkan  pengadilan ini  atas  rekomendasi  dari  DPR.  Seperti disebutkan di atas, DPR telah  membuat semacam rekomendasi kepada Presiden. Kami percaya, karena  itu,  bahwa sangat penting untuk  lembaga Anda untuk  mendirikan Pengadilan HAM ad hoc untuk  mendengar kasus-kasus dari 13  aktivis  hilang  dan  untuk  melakukan penyelidikan dan,  jika ada  bukti-bukti yang cukup, menuntut mereka  yang diduga  ada  pertanggungjawaban pidana. Langkah-langkah tersebut harus  berada dalam  kerangka  penyelidikan yang lebih  luas  terhadap semua kasus  penghilangan paksa  masa  lalu yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia.

Pengadilan  HAM ad  hoc  akan   menjadi  ukuran   penting  bagi  Pemerintah  untuk   memenuhi  hak  atas  keadilan, kebenaran, dan  reparasi untuk  keluarga  yang mengalami penghilangan paksa. Hak atas  keadilan, kebenaran, dan reparasi secara tegas  diakui  di bawah  hukum  internasional. Serangkaian Prinsip  untuk Perlindungan dan  Pemajuan HAM melalui  Tindakan  Memerangi Impunitas  tahun 2005  (E/CN.4/2005/102  / Add.1)  (selanjutnya  Serangkaian Prinsip)    menetapkan  bahwa    Negara    harus    menjamin   hak   mutlak   untuk    mengetahui   kebenaran  tentang pelanggaran. Korban   dan   keluarga   mereka   memiliki   hak  yang   tidak   dapat  dilanggar”  untuk   mengetahui kebenaran  tentang  keadaan  dimana  pelanggaran terjadi. Dalam   kasus   kematian  atau   penghilangan  korban, keluarga  korban  memiliki  hak  untuk  mengetahui kebenaran tentang nasib  orang  yang mereka  cintai. Serangkaian Prinsip   juga  menegaskan  bahwa   pelanggaran  hak  asasi   manusia  menimbulkan  hak  atas   reparasi  untuk   pihak korban   atau   penerima  manfaat  korban.   Hal  ini  tentu  menyiratkan  bahwa   negara   memiliki   kewajiban   untuk memberikan ganti rugi kepada para  korban  pelanggaran hak asasi  manusia dan  keluarga  mereka.

Ketika  Tinjauan   Periodik   Universal   (UPR)  Indonesia  pada   tahun 2012,  masyarakat  internasional menyambut penegasan  kembali    Pemerintah   Indonesia  dalam    komitmennya  untuk    memerangi impunitas  di   negeri   ini. Komitmen   ini  juga   signifikan   pada   tingkat   daerah,  mengingat  peran  integral   Indonesia  dalam   pembentukan mekanisme  HAM  ASEAN.  Oleh   karena   itu,   pemenuhan  hak  atas   keadilan,  kebenaran  dan   reparasi  korban penghilangan paksa  tidak  hanya  akan  memiliki  dampak positif  yang  sangat besar  pada  Indonesia, tetapi juga  di seluruh Asia Tenggara.

Karena  itu  kami  mendesak lembaga Anda  untuk  bertindak segera  dan  efektif  untuk  menyelesaikan semua kasus penghilangan paksa  di  Indonesia dan  untuk   memerangi impunitas  bagi  kejahatan-kejahatan.  Tindakan   tersebut harus  mencakup:

      Menginstruksikan Jaksa  Agung untuk  menyelidiki  penghilangan paksa   13  aktivis politik di tahun 1997 dan  98 dan, di mana  ada  bukti-bukti yang cukup, membawa mereka  yang bertanggung jawab ke pengadilan dalam persidangan independen yang memenuhi standar internasional tentang keadilan, dan  yang tidak memberlakukan hukuman mati;

        Membentuk Pengadilan HAM ad hoc seperti yang direkomendasikan oleh Komnas  HAM dan  Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) RI;

      Memberikan reparasi penuh dan  efektif  (termasuk restitusi, kompensasi, rehabilitasi, kepuasan, dan jaminan non-repetisi) bagi korban  penghilangan paksa  dan  /atau  keluarganya;

      Membentuk penyelidikan independen,  imparsial, dan  efektif  ke atas  nasib  dan  keberadaan 13  aktivis politik yang hilang,  dalam  kerangka  penyelidikan yang lebih  luas  kasus  penghilangan paksa  di Indonesia;

      Meratifikasi  segera  Konvensi Internasional untuk  Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa dan mengakui kompetensi Komite untuk  Penghilangan Paksa  dalam  menerima dan  mempertimbangkan komunikasi dari atau  atas  nama  korban  atau  dari pihak  negara-negara lain; dan

        Mengundang Kelompok Kerja PBB tentang Penghilangan Paksa  (WGEID) untuk  mengunjungi Indonesia, sesuai
dengan permintaan mereka  yang tertunda sejak  tahun 2006, dan  memastikan bahwa  kunjungan dilakukan pada  kesempatan pertama dan  bahwa  WGEID menikmati kerjasama penuh dan  akses  kepada instansi yang berwenang.

Kami berharap Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah tegas  untuk  memerangi impunitas di negeri  ini dan  menetapkan contoh  penting pada  perlindungan hak asasi  manusia dan  promosi  di tingkat regional.

Hormat  kami,

Sam  Zarifi
Direktur Regional  untuk  Asia dan  Pasifik
International Commission  of Jurists

Pollyanna  Truscott
Wakil Direktur Program  Asia Pasifik
Amnesty International

Souhayr  Belhassen
Presiden International Federation for Human  Rights  (FIDH)

Yap Swee Seng
Direktur Eksekutif Asian Forum for Human  Rights  and  Development (FORUM-ASIA)

Surat Terbuka ini juga dapat di unduh melalui link :


Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer