Home » » Dari Seminar Aku Anak Sehat Tupperware : Pola Hidup Sehat Membentuk Anak Menjadi Anak Sehat dan Hebat

Dari Seminar Aku Anak Sehat Tupperware : Pola Hidup Sehat Membentuk Anak Menjadi Anak Sehat dan Hebat

Written By Redaksi kabarsulawesi on Senin, 08 Oktober 2012 | 7:00 PM



 Kabarsulawesi.com – Makassar : Zat aditif yang terdapat di dalam jajanan anak bisa sangat membahayakan kesehatan dan menimbulkan berbagai macam penyakit.  Pentingnya kesadaran akan bahaya yang disebabkan oleh zat aditif serta edukasi tentang bahaya tersebut  perlu menjadi fokus para orangtua serta pendidik di sekolah dalam penerapan pola hidup sehat untuk membentuk anak menjadi anak sehat dan hebat

Data Survei BPOM dari sampling yang dilaksanakan oleh 30 Balai POM di Indonesia dengan sampel 886 SD yang tersebar di 30 kota di Indonesia, didapatkan sebanyak 35% sampel tidak menenuhi syarat.  Berdasarkan latar belakang tersebut, Tupperware melalui program Aku Anak Sehat (AAS) ini berusaha untuk memfasilitasi kesadaran masyarakat mengenai bahaya zat aditif yang terkandung pada jajanan, serta edukasi tentang pentingnya membawa bekal makanan sehat dari rumah bagi para orang tua serta para pendidik.

Sebagai bagian dari rangkain program AAS 2012, Tupperware Indonesia menghadirkan beberapa pembicara yakni Dra Nunuk Sugiyanti (Apt, MKes/Ksie Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM Makassar), Dr. Rose Mini, M.Psi (Psikolog Anak), dr. H. Tb. Rachmat Sentika, SpA, MARS (Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia) , Ibu Umayanti Utami (PR & Communication Manager PT Tupperware Indonesia) dalam acara seminar yang diselenggarakan di Grand Ballroom Makassar Golden Hotel, Makassar, 06 Oktober 2012

Umayanti Utami, PR & Communication Manager,  PT. Tupperware Indonesia, menyatakan program AAS merupakan program tahunan Tupperware Indonesia yang diawali dengan seminar untuk guru, kepala sekolah dan wakil dari komite sekolah serta kegiatan roadshow pada bulan Mei s/d November 2012.

Tupperware juga merasa bangga karena di tahun 2012 ini melalui program AAS memperoleh ReBi atau Rekor Bisnis sebagai perusahaan direct selling yang konsisten melakukan Corporate Social Responbility (CSR) dalam edukasi kebersihan ke anak sekolah. Dengan program Aku Anak Sehat ini, kami ingin menanamkan kembali kebiasaan positif kepada anak-anak untuk selalu membuang sampah di tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, dan membawa bekal dari rumah, ”ungkap Umayanti

Mengangkat tema tentang bagaimana menyadarkan para orangtua murid dan guru-guru tentang bahaya zat aditif yang terkandung pada jajanan anak serta menerapkan pola hidup sehat dengan membawa makan sehat dari rumah dalam membentuk anak menjadi anak sehat dan hebat, ujar Umayanti. “Ada baiknya bagi orang tua selalu menyempatkan waktu untuk menyiapkan bekal yang sehat bagi anak anda di sekolah, agar terhindar dari kontaminasi jajanan sekolah yang teracuni zat zat kimia berbahaya.”

“Penyalahgunaan zat aditif yang dimasukkan berlebihan kedalam jajanan anak sangat berbahaya terhadap kesehatan anak.  Hal ini memang tidak akan terlihat dalam jangka waktu yang dekat. Tetapi dikemudian hari, muncul kerusakan-kerusakan pada ginjal serta gangguan dalam tumbuh kembang anak, jelas dr. H. Tb. Rachmat Sentika, SpA, MARS, Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

 Penampilan musikal bernyanyi yang dibawakan oleh siswa dan siswi SDN Impress Bertingkat Mamajang 1

Psikolog Anak,Dr. Rose Mini, M.Psi juga mengamini bahwa  kiat dan strategi untuk para orang tua dan guru-guru dalam memberikan kesadaran serta edukasi tentang kandungan zat-zat berbahaya yang ada pada jajanan di sekolah. Para pendidik harus menguasai wawasan mengenai pola makan yang sehat.  Ketika menghimbau anak, sertakan pula alasan yang logis dan konkret sesuai dengan kemampuan anak, sehingga anak dapat mencerna dengan mudah dan akan bertindak sesuai dengan arahan yang dimaksud”. Strategi-strategi tersebut diperlukan dalam menghadapi sifat anak-anak yang cenderung tidak menghiraukan.

 “Makanan yang mengandung zat aditif selain sangat berbahaya untuk kesehatan, hal tersebut dapat merusak citra pangan Indonesia dan menurunkan daya saingnya di pasar global.  Selain itu, hal ini juga sangat tidak mendidik pelaku usaha untuk bertanggungjawab dan mau bersaing secara jujur, adil dan tidak merugikan konsumen” imbuh Dra Nunuk Sugiyanti (Apt, MKes/Ksie Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM Makassar. (admin)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer