Home » » Meneropong Kehidupan Masyarakat Pulau Jampea Ditengah Redup Cahaya Matahari Sore

Meneropong Kehidupan Masyarakat Pulau Jampea Ditengah Redup Cahaya Matahari Sore

Written By Redaksi kabarsulawesi on Jumat, 12 Oktober 2012 | 10:38 PM



Kabarsulawesi.com – Selayar : Senja perlahan mulai tenggelam, saat kapal KLM. Niaga Express yang ditumpangi rombongan Tim kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan yang dipimpin wakil bupati, H. Saiful Arif, SH, tepat berhadapan dengan tiga wilayah pulau yang mengapit Pulau Benteng Jampea, Ibukota Kecamatan Pasimasunggu.

Ketiga pulau tersebut diantaranya : Pulau Jailamu, Pulau Bembe, Desa Tanamalala, dan Pulau Katela. Target waktu perjalanan sedikit molor dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Karena diluar dugaan, salah satu mesin kapal tiba-tiba mengalami trouble.

Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, tepat menunjukkan pukul 18.13 Wita, saat penerangan lampu listrik PLN pemukiman warga Jampea sayup-sayup mulai terlihat oleh mata kasar. Sepintas lalu, kondisi ini menjadi simbol "Betapa kehidupan masyarakat Pulau Jampea, kian lebih baik dan sempurna".

Kedap-Kedip lampu mercusuar, dan tower telefon selular milik PT. Telkomsel terlihat menyala silih berganti. Sungguh, sebuah kemajuan yang sangat luar biasa, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Selayar terhadap pemerataan pembangunan antara daerah daratan dan kepulauan, kian kontras terlihat. Hampir tak ada lagi kesan, kesenjangan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Kebijakan ini, perlahan telah mengantarkan masyarakat pulau memasuki pintu gerbang kemerdekaan dalam artian yang sesungguhnya. Padahal puluhan tahun silam, masyarakat Pulau Jampea dan sekitarnya, hanya bisa menikmati penerangan lampu diesel.

Itu pun, masyarakat hanya bisa menikmati penerangan sampai pukul 22.00 Wita. Cahaya lampu yang dipancarkan pun terkadang masih redup, dan berkedap-kedip. Suara bising yang berasal dari mesin listrik diesel telah menjadi santapan keseharian warga masyarakat setempat.

Terutama, dikala waktu menjelang magrib. Pada malam hari, saat waktu tidur tiba, deru suara mesin diesel yang memekakkan telinga pun menjadi teman setia bagi warga masyarakat Pulau Jampea dan sekitarnya. 

Walau jauh di dalam lubuk hati kecil masyarakat, deru mesin listrik sudah lama dirasakan mengusik ketenangan tidur mereka.

Namun seiring perjalanan roda waktu, masyarakat Pulau Jampea mulai dapat menghela nafas lega dan mengucapkan selamat tinggal untuk penerangan lampu disel.Setelah pada tahun 1990-an, PT. PLN (Persero) resmi mengalirkan penerangan listrik ke pulau tersebut. Mesin diesel, baru akan kembali dioperasikan pada siang hari. Tatkala, PT. PLN (Persero) kembali memadamkan lampu listriknya saat mentari pagi menyembulkan cahayanya.  

Mengiringi perkembangan itu, industri pengawetan komoditas ayam potong menggunakan perangkat kulkas pendingin pun mulai tumbuh berkembang atas prakarsa tiga kepala keluarga di pulau ini.
Salah seorang pengusaha pengawetan ayam potong di Desa Benteng Jampea, Bahkan, langsung mengoperasikan tiga unit kulkas pendingin sekaligus. Disamping, dia juga mulai mengoperasikan warung internet kecil-kecilan dengan modal tiga unit computer dan tiga pasang speaker aktif yang melengkapi keberadaan warnet.
(fadly syarif) 
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer