Home » » Pelestarian Budaya Sampai Pengolahan Kenari Ciri Masyarakat Dusun Baturapa

Pelestarian Budaya Sampai Pengolahan Kenari Ciri Masyarakat Dusun Baturapa

Written By Redaksi kabarsulawesi on Selasa, 25 Desember 2012 | 2:12 PM



Kabarsulawesi.com – Selayar : Diam adalah emas. Pepatah ini, mungkin tepat untuk menggambarkan karakter keseharian masyarakat Dusun Baturapa, Desa Polebunging, Kecamatan Bontomanai. Sebuah kampung kecil yang jauh terpencil di daerah pelosok bagian utara, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.

Terbukti, dalam diamnya selama ini, warga masyarakat Dusun Baturapa telah berhasil menunjukkan perubahan pola kehidupan yang pesat luar biasa. Tak hanya sukses melestarikan nilai-nilai budaya yang disokong oleh keberadaan organisasi lembaga Adat Sipakatau.

Akan tetapi, masyarakat di daerah yang terletak di dataran tinggi tersebut juga telah terbukti, mampu  merefleksikan kebijakan pemberdayaan ekonomi oleh pemerintah kabupaten melalui peningkatan mutu dan kualitas kegiatan home industri atau usaha kecil menengah.

Indikatornya pun sangat jelas terlihat dari mulai berubahnya sistem pengolahan sumber daya buah kenari  yang terdapat di daerah itu. Dimana, perlahan tapi pasti, masyarakat mulai terlihat meninggalkan kebiasaan lamanya. Yang semula, mereka masih harus menggunakan batu tumbuk untuk memecah kulit kenari hasil pungutannya.

Kini, kebiasaan lama itu telah mereka tinggalkan bersamaan dengan beralihnya warga menggunakan parang untuk membelah buah kenari tanpa harus lagi menggunakan sistim memecah, seperti beberapa tahun silam.

Sebelumnya, buah kenari pungutan warga ini, terlebih dahulu direndam selama kurun waktu tiga sampai empat hari. Setelah itu, barulah kulit kenari dikupas dengan menggunakan bantuan parang dan selanjutnya, dijemur di tengah terik panas matahari selama empat hari.

Sekretariat Lembaga Adat Sipakatau
Menurut salah seorang pelaku home industri di daerah itu, proses penjemuran sengaja dilakukan, agar buah kenari lebih mudah untuk dibelah dan dipisahkan dari kulitnya. Sayang sekali, karena buah kenari hasil olahan warga masyarakat ini masih harus dibenturkan pada persoalan pangsa pasar yang hingga sekarang hanya beredar di pasar lokal Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kendati demikian,  masyarakat Dusun Baturapa tak pernah mengenal putus asa. Harapan kehidupan yang lebih baik, senantiasa terpatri di dalam lubuk hati  segenap warga masyarakat di kampung itu.

Mereka yakin, saban hari, buah kenari hasil olahannya akan berbuah rupiah melalui sentuhan investor, baik investor lokal, maupun investor asing dari luar negeri. Dan untuk menggapai mimpi indahnya, masyarakat Dusun Baturapa terus melakukan langkah-langkah terobosan pengolahan buah kenari.

Salah satunya telah dituangkan warga masyarakat setempat melalui pembuatan makanan cemilan tradisional ala Selayar, dalam bentuk, tenteng kenari dan wajik, atau yang dalam bahasa lokal Selayar, lebih dikenal dengan sebutan haje kenari.

Berangkat dari sebuah niat tulus, masyarakat Dusun Baturapa berharap, kelak nanti, kampung halaman mereka akan berubah menjadi sentra pengolahan kenari terpadu di daratan Provinsi Sulawesi-Selatan.  
  
Setidaknya, demikianlah penggalan harapan warga masyarakat Dusun Baturapa yang setiap harinya menggantungkan kehidupan dari hasil pengolahan buah kenari. Betapa tidak, dalam sehari, masyarakat setempat dapat mengumpulkan puluhan karung buah kenari siap jual. (fadly syarif)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer