Home » » Ragam Etnis & Bahasa di Pulau Bonerate Simbolkan Kehidupan Bhineka Tunggal Ika

Ragam Etnis & Bahasa di Pulau Bonerate Simbolkan Kehidupan Bhineka Tunggal Ika

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 02 Februari 2013 | 1:41 AM



tim liputan (pinggir kiri, baju kaos merah polos) berpose dengan salah seorang warga Pulau Bonerate

Kabarsulawesi.com – Selayar : Keragaman suku, etnis, dan budaya nusantara, serasa kian sempurna dengan hadirnya kultur kehidupan masyarakat Pulau Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.

Pulau terluar di belahan Bumi Tanadoang ini didiami oleh kultur masyarakat yang berasal dari tiga suku berbeda yakni : Suku Bonerate sebagai penduduk asli,  Suku Bugis Bulukumba dan suku Gowa.

Dimana, rata-rata mereka merupakan warga pendatang dari luar daerah yang memilih pulau Bonerate sebagai tempat untuk mengadu peruntungan. Baik, sebagai seorang tenaga PNSD, maupun, sebagai seorang nelayan.

Daerah yang terdiri dari kawasan pesisir pantai tersebut juga turut didiami oleh masyarakat asal Pulau Kayuadi, masyarakat ibukota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar,  Dusun Barang-Barang, Desa Laiyolo, Kecamatan Bontosikuyu, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari wilayah kecamatan daratan, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Masyarakat asal Dusun Barang-Barang, dan Kayuadi, rata-rata tinggal berdiam, di Desa Komba-Komba. Sedangkan, masyarakat dari Ibukota Benteng suku Bugis Bulukumba, dan Gowa, tinggal menyebar hampir di seluruh pelosok wilayah Kecamatan Pasimarannu.

Kebanyakan diantara mereka adalah kalangan tenaga pegawai negeri sipil daerah atau tenaga pegawai tidak tetap yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, dr puskesmas, suster, bidan, pegawai kecamatan, satuan polisi pamong praja, petugas UPT Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informatika, petugas lampu mercusuar dan aparat kepolisian yang mendapat penugasan di wilayah itu.  

Namun dalam perkembangannya, tak sedikit pula penduduk pendatang yang kemudian menikah dan sampai beranak cucu di Pulau Bonerate. Sehingga dengan sendirimya, terjadilah perkawinan silang antara penduduk asli dengan penduduk dari luar daerah berstatus pendatang.

Tak heran, bila kehidupan keseharian masyarakat di pulau ini terkadang harus diwarnai oleh keragaman bahasa daerah. Bermula dari bahasa Bonerate, bahasa Laiyolo, bahasa Bugis Bulukumba, bahasa  Selayar dan bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan.

Pasalnya, masyarakat Pulau Bonerate akan lebih mudah diajak berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa persatuan. Mengingat, bahasa penduduk asli di pulau tersebut, sulit untuk dipahami oleh warga pendatang.

Dibutuhkan waktu berbulan-bulan sampai bertahu-tahun, untuk bisa beradaptasi, memahami dan menggunakan bahasa asli Bonerate yang acap kali diistilahkan dengan bahasa burung-burung atau yang  dalam dialek bahasa Selayar, lebih sering disebut bahasa “jangan-jangan”.
Sementara, bahasa Laiyolo dan bahasa Kayuadi, lebih cenderung digunakan oleh  masyarakat di Desa Komba-Komba. (fadly syarif)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer