Home » » Menakar Gerakan Kaum Muda dalam Perindo

Menakar Gerakan Kaum Muda dalam Perindo

Written By Redaksi kabarsulawesi on Senin, 22 April 2013 | 4:27 PM



Kabarsulawesi.com - Peran kaum muda dinegeri ini dalam sejarah perpolitikan tanah air tidak dapat dilepaskan begitu saja karna kaum muda merupakan katalisator dalam sejarah kehidupan berdemokrasi. Kaum muda terbukti telah mampu mengubah artefak dunia politik tanah air, baik dari zaman penjajahan sampai era reformasi. Di era reformasi saat ini tidak sulit bagi kita untuk menemukan cikal bakal pergerkan kaum muda. Salah satu yang mulai naik daun saat ini adalah sebuah organisasi masyarakat yang notabene di klaim sebagai gagasan kaum muda bernama Persatuan Indonesia atau disingkat Perindo. Tepat pada tanggal 24 Februari 2014 lalu Persatuan Indonesia (Perindo) mendeklarasikan diri sebagai ormas dengan motor penggerak seorang tokoh muda Hary Tanoesoedibjo (HT) dan sekaligus dinobatkan menjadi Ketua Umum Perindo. Yang mana HT sendiri selama ini sudah dikenal sebagai salah satu Dewan Pakar Partai NasDem, akan tetapi memilih mundur karna perbedaan prinsip.

Seperti di lansir beberapa media cetak Perindo memberikan manifesto politiknya diantaranya; “Hari ini kami nyatakan kami kaum muda menolak demokrasi oligarki. Kami belajar dari sejarah bahwa kejayaan suatu bangsa tidak jatuh dari langit tapi harus direbut dengan keringat sendiri. Kami kaum muda yang berbeda karena kami berani garis terang berpisah dengan masa lalu. Kita berkumpul di sini dengan hal yang sama, Pancasila dan UUD 1945. Kami sadar akan datangnya pertanda zaman agar kaum muda bertindak, mengabdi pada kepentingan bangsa. Kami yang berkumpul disini mengambil jalan baru dengan membentuk ormas bernama Perhimpunan Indonesia. Sebagai wajah bersatunya potensi muda untuk memperjuangkan dan melindungi hak-hak warga negara menghidupkan kembali jiwa gotong royong. Perindo adalah sebuah persemaian jati diri muda Indonesia. Keteguhan pengetahuan yang kokoh etos dan patuh untuk kepemimpinan baru Indonesia. Kebenaran harus di perjuangkan. Jayalah perindo”.

Gerakan Perubahan

Mencermati manifesto politik Perindo seakan kita membayangkan lahirnya sebuah gerakan kaum muda yang akan tampil progresif ditengah-tengah carut marut dan kegaduhan politik saat ini. Tidak dapat dipungkiri kehadiran Perindo sebenarnya tidak terlepas dari konflik yang terjadi dalam organisasi yang dinaungi HT sebelumnya, yaitu Partai NasDem. Dari ketidaharmonisan dalam sebuah gerakan perubahan yang selama ini diperjuangkan oleh NasDem akhirnya HT mengambil sikap dengan mendirikan ormas yang sebelumnya diklaim sebagai ormas anti kepalsuan. Kehadiran Perindo tidak dapat dipungkiri lahir dari pecahnya faksi dalam Partai NasDem. Kongsi ini pun harus berpisah ketika Surya Paloh memaksakan diri untuk merebut kembali jabatan Ketua Umum dari tokoh muda.

Tapi kita tidak bisa menilai kehadiran Perindo bisa dikatakan sebagai aksi balas dendam dari kebijakan tokoh NasDem yang tidak dapat menerima masukan dari pihak lain termasuk HT sendiri. Perindo yang dimotori gerakan kaum muda mencoba menokohkan seorang sosok Hary Tanoesoedibjo yang dikenal sebagai seorang milyader media di Indonesia. Tidak sulit bagi HT untuk menaikkan elektabilitasnya dimata rakyat dengan bantuan industri media yang dia miliki. Apalagi banyak kalangan pengamata dan peneliti menyorot HT sebagai sebuah magnet yang sangat kuat didalam menggalang massa dan proses pencitraan. Ketika baru-baru ini HT bergabung dengan partai Hanura, seakan partai ini mendapat durian runtuh dan banyak pihak yang menilai ini sebagai sebuah keberuntungan yang menghinggapi Partai Hanura.

Tapi perlu digarisbawahi, tidak banyak pihak yang meragukan kemampuan HT dalam kancah politik. Ditambah rekam jejaknya yang masih minim dalam kancah politik. Lain pengamat lain pula penilaian masyarakat umum, mungkinkah Perindo akan memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan rakyat kedepan? itu yang perlu diperdebatkan. Bagi masyarakat awam kehadiran Perindo tidak begitu banyak memberikan implikasi yang positif, banyak masyarakat yang menilai Perindo sama saja dengan Parpol yang dibungkus dengan balutan ormas. Menilai ini semua kita juga harus memaklumi karna telah terjadi frustasi kepercayaan masyarakat terhadap ormas ataupun parpol yang hanya disibukkan dengan urusan perebutan kekuasaan semata dan nihil manfaatnya bagi rakyat kebanyakan.

Hal inilah yang perlu digaris bawahi, apakah kehadiran Perindo akan dapat menjadi sebuah spasi transformasi demokratisasi sebaliknya ataukah akan semakin menunjukkan belangnya sebagai sebuah mesin yang haus kekuasaan melalui politik pencitraan. Apalagi Perindo sendiri minim dari sebuah ideologi sehingga bisa jadi ada atau tidaknya Perindo tidak begitu bermanfaat bagi pelembagaan masyarakat sipil. Mengutif tulisan F Budi Hardiman, (Kompas, 23/2/2013), bahwa demokrasi kita tidak menjauh dari moncong oligarki. Melihat ini Perindo harus mampu menjadi katalisator perubahan dan berdiri diantara dialektika peran dan posisi sebagai salah satu pilar demokrasi. Kita berharap Perindo tidak larut dalam cengkreman oligarki dan tanpa sadar membangun kepentingan oligarki diatas kepentingan rakyat.

Quo vadis Perindo ?
                                                                                                          
Perindo yang digagas oleh gerakan kaum muda progresif sebaiknya tidak perlu malu dan berpura-pura untuk mendeklarasikan sebuah partai politik kedepan. Jangan sampai kasus NasDem akan kembali terulang di Perindo, bila kelahiran Perindo kedepan menyamai NasDem berarti sama saja Perindo tidak memberikan sebuah keteladanan dalam berpolitik. Masyarakat sudah bosan dengan gerak dan tipu muslihat politisi kita. Perindo diharapkan menjadi ormas ataupun parpol yang mampu melawan cengkraman “oligarki” gaya baru. Jangan hanya mampu menampilkan sebuah simbolisme industri politik saja, karna pencitraan tanpa gerakan yang substansial sama saja omong kosong. Dengan semakin kritisnya gerakan ekstra parlementer saat ini akan menjadi taruhan bagi Perindo dalam berkiprah dikancah demokrasi tanah air. Mampukah Perindo mewarnai iklim demokratisasi saat ini ataukah sebaliknya. Cuma rakyat yang dapat menilai sepak terjang Perindo kedepan. Semoga Perindo yang menjadi icon pergerakan kaum muda mampu melawan cengkraman oligarki dan bukan menjadi alat oligarki. Bila benar barisan kaum muda yang ada dalam Perindo bertekad menjadi motor perubahan sudah seharusnya sejak dini berkomitmen untuk membangkitnya impotennya pilar-pilar demokratisasi disegala bidang termasuk ranah hukum. Dan kemudian tetap dibarisan terdepan dalam membangun konsolidasi masyarakat sipil untuk mengawal proses demokratisasi.
Bambang Arianto, Peneliti Partai Politik di
Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) Yogyakarta
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer