Home » » Atut Perempuan Asli Banten

Atut Perempuan Asli Banten

Written By Redaksi kabarsulawesi on Selasa, 08 Oktober 2013 | 9:00 AM

Kabarsulawesi.com : Atut merupakan wanita asli Serang, Banten. Ia lahir di daerah Ciomas, Banten pada tanggal 16 Mei 1962. Atut terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Prof. Dr. H. Tb. Hasan Sochib dan Hj. Waisah. Sang ayah selain dikenal sebagai seorang pengusaha di bidang kosntruksi, juga dikenal sebagai seorang pendekar asli Banten yang ahli dalam pencak silat. Tak heran, didikan disiplin terutama dalam hal ibadah sangat kental dalam lingkungan keluarga. Tak hanya itu saja, kedua orang tuanya juga sangat memberikan perhatian besar terhadap pendidikan semua anak-anaknya.

Atut menghabiskan masa kanak-kanaknya di berbagai daerah. “Orang tua saya ingin anak-anaknya lebih mandiri,” aku Atut. Atut kecil bersekolah di SD Negeri Gumulung di kampung kelahirannya. Setelah menamatkan pendidikan SD-nya, kedua orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkan Atut di SMP Negeri 11, Bandung, Jawa Barat. Alhasil, Atut pindah ke Bandung sekitar tahun 1974. “Saya di Bandung sudah kost sendiri,” ujar Atut dengan bangganya. “Kata orang tua saya, supaya pintar makanya disekolahkan di Bandung,” lanjutnya. Kedua orang tua Atut memang menerapkan salah satu hadits nabi yang mengatakan bahwa 'Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina'. 

Selepas menyelesaikan pendidikan SMP pada tahun 1977, Atut kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA 12 Bandung. Setelah menamatkan sekolahnya, Atut sempat mengenyam pendidikan D3 di salah satu universitas swasta di Bandung. Barulah setelah kenyang dengan pendidikan D3 akuntansi perbankan pada tahun 1984, Atut lantas mencoba untuk merintis bisnis di kota Bandung. Setelah itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Borobudur, Jakarta yang kini dipermasalahkan oleh salah satu mantan calon gubernur pilkada Banten 2007. Tepat tahun 2005, ia berhasil meraih gelar sarjana ekonomi dari kampus tersebut.

Tinggal cukup lama di kota kembang, juga menjadi salah satu titik awal kesuksesan wanita berkerudung ini. Berawal dari usaha kecil-kecilan sebagai supplier alat tulis dan kontraktor, Atut mulai merintis usahanya. Bahkan usahanya dari waktu ke waktu semakin berkembang pesat di bidang perdagangan dan kontraktor sebagaimana bidang yang digeluti oleh ayahnya. Entah karena darah bisnis yang ditularkan dari sang ayah, Atut kemudian berubah menjadi seorang pengusaha sukses. Kesuksesannya itulah yang membawa Atut menduduki sejumlah jabatan prestisius, di antaranya adalah Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (KADINDA) Propinsi Banten, Ketua Asosiasi Distributor Indonesia (ARDIN) Propinsi Banten dan aneka organisasi lain. (fajar-aryanto.blogspot.com)


Pengusaha Yang Menjadi Gubernur

Setelah sukses dengan karir di bidang bisnisnya, Atut sebagai puteri Banten merasa terpanggil untuk membangun Propinsi Banten, yang terbentuk pada pertengahan tahun 2001, dengan terlibat langsung sebagai pemegang kebijakan dalam pemerintahan. Ia terjun ke dunia birokrasi dengan mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Banten periode 2002–2007. Dalam pemilihan di DPRD Banten, Ratu Atut bersama calon Gubernur Djoko Munandar terpilih untuk memimpin Propinsi Banten. Pada tanggal 11 Januari 2002, Atut resmi menduduki jabatan Wakil Gubernur Banten. Dan pada awal tahun 2006, ia dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Banten. Saat hendak menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Banten, kehadiran Atut menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat menolak kehadiran sosok perempuan dalam pucuk pimpinan dan berperan sebagai imam bagi masyarakatnya. Namun sebagian lainnya menyetujui kepemimpinan seorang perempuan di satu daerah. Tidak terukur betapa pedihnya perasaan Atut saat sebagian masyarakat menolak dirinya. Kendati begitu, sebagian masyarakat lainnya yang mendukung, akhirnya membuat ia semakin termotivasi untuk memberikan suatu yang terbaik bagi rakyat Banten.

Sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Banten, Atut lantas mempersiapkan penyelenggaraan Pilkada Banten pada tahun 2006. Atut pun kembali merasa terpanggil untuk mencalonkan diri sebagai gubernur dan berpasangan dengan Muhammad Masduki sebagai calon wakil Gubernur. Bak gayung bersambut, dalam pilkada yang diadakan pada akhir 2006, Atut mampu meraih kemenangan dan menyingkirkan calon-calon lainnya. (fajar-aryanto.blogspot.com)

Silsilah Dinasti Banten, Abah Chasan dan Para Istri

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menjadi sorotan ketika KPK menangkap adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dalam upaya suap Ketua MK, Akil Mochtar. Gebrakan KPK, termasuk mencegah Ratu Atut ke luar negeri, disambut banyak pihak sebagai awal runtuhnya "dinasti Banten".

Dinasti Banten keluarga Atut berawal dari sang ayah, Tubagus Chasan Sochib. Sang jawara Banten ini pernah berujar "Sayalah gubernur jenderal." Kalimat itu dilontarkan sang Jawara setelah Chasan mengantarkan pasangan Djoko Munandar-Ratu Atut sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten tahun 2001.

Nama Chasan berkibar melalui perusahaan CV Sinar Ciomas yang didirikan pada1970-an. Perusahaan kontraktor itu cikal bakal PT Sinar Ciomas Raya yang sahamnya dimiliki keluarga besar Chasan.

Proyek-proyek besar di Banten sudah pernah digarap PT Sinar Ciomas seperti pembangunan gedung dewan tahun 2006. Pelabuhan dermaga di Cigading pun digarap PT Sinar Ciomas. Pembangunan gedung DPRD Banten senilai Rp 62 miliar juga tidak lepas dari PT Sinar Ciomas.

Chasan Sochib meninggal 30 Juni 2011. Namun, pamor keluarga ini belum luntur karena keluarga besarnya menduduki banyak posisi penting di pemerintahan maupun bisnis.

Chasan memiliki banyak istri. Jumlah istri dan anak Chasan Sochib bukan "angka pasti". Istri pertamanya, Wasiah, ketika diwawancarai Tempo, tak bisa menyebutkan siapa saja istri Chasan. "Ada di mana-mana," katanya. Seseorang yang dekat dengan penerima gelar doktor honoris causa dan profesor dari Northern California University dan Global University International ini bercerita, "Chasan juga tak tahu jumlah dan nama semua anaknya."

Jumlah istri Chasan sebenarnya bisa terlihat dari data tentang ahli warisnya. Surat Mahkamah Agung yang diterima Tempo menunjukkan Chasan memiliki 25 ahli waris dari 6 istri.

** ISTRI PERTAMA, Wasiah Samsudin, menikah 2 November 1960 di Serang. Namun bercerai tahun 1991 :

MEMPUNYAI ANAK :

JABATAN : Awalnya Atut menjabat sebagai wakil gubernur pada 2001. Kariernya naik menjadi Plt. Gubernur Banten pada Oktober 2005. Puncaknya, ia berhasil menduduki jabatan Gubernur Provinsi Banten periode 2007-2012 dan 2012-2017.
Suami : Hikmat Tomet yang menjabat anggota Komisi V Fraksi Golkar 2009-2014
Anak pasangan Atut dan Hikmat :
1. Andika Hazrumy menjabat sebagai anggota DPD Banten 2009-2014, Kordinator TAGANA (Taruna Siaga Bencana) Banten, Direktur Utama PT. Andika Pradana Utama, Direktur Utama PT Pelayaran Sinar Ciomas Pratama, Direktur Utama PT Ratu Hotel.
Istri : Ade Rossi Khoerunisa menjabat sebagai anggota DPRD Kota Serang 2009-2014.
2.Ratu Tatu Chasanah: Wakil Bupati Kabupaten Serang 2010-2015
3. Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan: Pengusaha dan Ketua AMPG Banten
Istri : Airin Rachmi Diany menjabat sebagai Walikota Tangerang Selatan 2011-2016.
Istri kedua...

** ISTRI KEDUA, Ratu Rapiah Suhaemi. Ia dinikahi Chasan Sochib pada 2 Mei 1969 di Serang. :
Dari Rapiah Suhaemi, Chasan mendapat lima anak :
1. Tubagus Haerul Jaman
Menjabat sebagai Wakil Walikota Serang 2008-2013 dan Walikota Serang 2013-2018.
2. Ratu Lilis Karyawati
Menjabat sebagai Ketua DPD II Golkar Kota Serang 2009-2014.
Suami : Aden Abdul Khaliq yang menjabat sebagai anggota DPRD Banten 2009-2014.
3. Iloh Rohayati
4. Tubagus Hendru Zaman
5. Ratu Ria Mariana

** ISTRI KETIGA, Chaeriyah. Tubagus Chasan Sochib menikahinya pada 21 Mei 1968. Namun mereka bercerai pada 2002. Dengan istri ketiga, Chasan dikaruniani lima anak :
1. Ratu Heni Chendrayani
Menjabat : Pengurus Kadin periode 2012-2017. Ia menduduki posisi Ketua Komite Tetap Asuransi Kendaraan.
2. Ratu Wawat Cherawati
Menjabat : Pengurus Kadin periode 2012-2017. Ia menduduki posisi Komite Tetap Pengolahan & Pemanfaatan Limbah Industri Pertambangan.
3. Tubagus Hafid Habibullah
4. Tubagus Ari Chaerudin, aktif di Gapensi kota Serang
5. Ratu Hera Herawati
Istri keempat...

** ISTRI KEEMPAT, Imas Masnawiyah dinikahi Chasan Sochib pada 06 Juni 1969 di Pandeglang dan sudah meninggal pada 17 Februari 1986.
Dengan istri keempat, Chasan mempunyai tiga anak :
1.Ratu Ipah Chudaefah
Guru di Kota Serang.
2. Ratu Yayat Nurhayati
3. Tubagus Aan Andriawan

**ISTRI KELIMA, Heryani Yuhana yang dinikahi Chasan 30 Mei 1988 di Pandeglang.
Istri kelima ini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Pandeglang periode 2009-2014. Chasan dari Heryani mendapat lima anak :
1. Tubagus Erhan Hazrumi
Menjabat : Direktur PT Trio Punditama.
2. Ratu Irianti
3. Tubagus Bambang Saepullah
4. Tubagus Febi Feriana Fahmi

** ISTRI KEENAM, Ratna Komalasari dinikahi Chasan pada 8 April 1991. Ia menjabat sebaga anggota DPRD Kota Serang periode 2009-2014. Empat anak didapat Chasan dari Ratna Komalasari :
1.Tubagus Bambang Chaeruman
Menjabat : Bekerja sebagai kontraktor.
2. Ratu Aeliya Nurchayati
3. Tubagus Taufik Hidayat

SUMBER DIOLAH :  TEMPO


Dilapor Atut Berijazah Palsu

Ingat Ratu Atut, pasti ingat Marissa Haque. Pada tahun 2008, keduanya terlibat perseteruan sengit.  Tahun 2008, publik sempat dihebohkan dengan tuduhan ijazah palsu yang ditudingkan pihak Marissa kepada gubernur Banten, Atut. Keduanya adalah rival dalam pemilihan gubernur Banten dan yang terpilih adalah Jeng Atut (atut dalam bahasa alay dan salon berarti: takut. LOL). Marissa bersikeras bahwa Atut melakukan tindakan pemalsusan jazah. Dan kesimpulan yang saat itu ditetapkan adalah Marissa terbukti bersalah mencemarkan nama baik Yayasan Pendidikan Borobudur (pihak yang akhirnya menggugat Marissa). Majelis Hakm yang bernama Zaid Umar Bobsaid menyatakan Marissa melanggar hukum. Transkrip ijazah Ratu Atut Chosiyah dari Universitas Borobudur yang dinilai palsu itu ternyata tak ada satu pun yang janggal.


Marissa Haque pernah melaporkan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah karena telah memalsukan ijazah yang dikeluarkan oleh Universitas Borobudur. Kasus ini sebenarnya sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu. Dengan adanya tuduhan Marissa Haque seperti itu, pihak Universitas Borobudur tidak terima dengan tuduhan seperti itu akhirnya keduanya saling melaporkan. Kasus ini kemudian ditangani oleh Bareskrim Mabes Polri dan belum diproses secara hukum.

Bukti-bukti yang ditemukan oleh Marissa Haque diserahkan kepada Pengadilan Negeri Tangerang pada hari Kamis (30/10/2008) pukul 11.00 WIB. Bukti yang ditemukan dan diserahkan oleh Marissa Haque itu sejumlah 112 bukti seperti Transkrip nilai serta judul skripsi milik Ratu Atut Chosiyah. Marissa Haque menyerahkan bukti tersebut kepada Iwiek Endang selaku Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri Tangerang.

Kasus ijazah palsu Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang dilaporkan Marissa Haque beberapa waktu lalu dihentikan penyidik Polda Metro Jaya karena tidak memenuhi cukup bukti untuk diproses secara hukum. "Polda sudah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap laporan Marissa tentang Atut," ungkap Plh Kabid Humas Polda Metro Jaya AKBP Mahbub di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, alasan polisi menghentikan kasusnya karena setelah dilakukan penyidikan dan memintai keterangan sejumlah saksi tidak ditemukan adanya indikasi Atut menggunakan ijazah palsu. Artinya, ijazah yang dimiliki Atut untuk mencalonkan diri menjadi gubernur Banten waktu itu adalah asli.

"Dengan SP3 ini laporan terhadap Atut sudah selesai," katanya. Sebaliknya Atut yang mengadukan Marissa ke polisi dalam kasus pencemaran nama baik atas laporan ijazah palsu saat ini masih diproses secara hukum.
Tak puas dengan kinerja kepolisian dalam menangani kasus ini yang terkesan lamban, Marissa beserta tim kuasa hukum yang dikoordinir oleh Djonggi Simorangkir SH mengambil inisiatif untuk terus proaktif.

Berdasarkan instruksi dari Direktorat Jenderal Dikti Diknas, Marissa diminta untuk berkoordinasi dengan Universitas tempat Atut kuliah, yaitu Universitas Sangga Buana Bandung (D-3) dan Universitas Borobudur tempat Atut mengambil S-1. Dari hasil penyelidikan ke Universitas Sangga Buana yang dilakukan oleh Djonggi Simorangkir, ternyata didapatkan novum bahwa Atut tak menyelesaikan pendidikan D-3.

Menurut pihak Sangga Buana, Yan Sukiman SE MM, Atut hanya menyelesaikan 4 semester, karena pada semester 5 Atut menikah. Tepatnya Atut kuliah di Sangga Buana pada 1981 sampai 1983 awal. Padahal untuk menyelesaikan pendidikan D-3, requirement normatifnya mahasiswa harus kuliah selama minimal 3 tahun atau 6 semester.

Atas dasar itu ternyata Atut minta surat keterangan dari Sangga Buana untuk menyelesaikan S-1 di Universitas Borobudur Bekasi. Ternyata di Universitas Borobudur ini Atut hanya dalam waktu 1 tahun 3 bulan sudah mendapatkan ijazah S-1. Padahal menurut Marissa dalam ketentuan Dikti, pendidikan S-1 dengan sistem konversi mata kuliah dasar umum (MKDU) dapat ditempuh dalam waktu minimal 2 tahun atau 1 setengah tahun.

”Dia (Atut, red) masuk Borobudur tahun 2003, kemudian Mei 2004 sudah ada skripsi, mungkinkah 1 tahun 3 bulan bisa menyelesaikan pendidikan S-1? “ ungkap Marissa yang didampingi Djonggi Simorangkir dan Ida Rumindang Radjaguguk kepada wartawan akhir, jumat (18/7) di kantor kuasa hukumnya, Djonggi Simorangkir.
(sl/berbagai sumber)

Daftar Dugaan Korupsi Gubernur Banten

Aliansi Independen Peduli Publik (ALIPP) melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan oleh Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Atut diduga melakukan korupsi APBD Provinsi Banten senilai ratusan juta rupiah.

Menurut Juru Bicara ALIPP, Suhada,  pada APBD 2011, Atut mengeluarkan kebijakan melalui program bantuan hibah yang jumlahnya sebesar Rp 340,463 miliar yang dibagikan kepada 221 lembaga/organisasi serta program bantuan sosial sebesar Rp 51 miliar. Nilai dana hibah itu jauh lebih besar dari tahun 2010 yang hanya mencapai Rp 239,27 miliar dan tahun 2009 yang hanya Rp 14 miliar.

ALIPP menemukan sejumlah kejanggalan yang mengarah pada dugaan tindak pidana korupsi.  Yaitu:

1. Kebijakan tersebut dilaksanakan tidak secara transparan mengingat surat keputusan dan daftar alamat penerima, baik bantuan hibah maupun bantuan sosial.

2. Terdapat sejumlah nama lembaga/organisasi penerima dana yang diduga fiktif dan nepotisme. Antara lain adalah:
-       PMI Provinsi Banten (Rp 900 juta ) yang diketuai  Ratu Tatu Chasanah, adik Ratu ATut
-       KNPI Provinsi Banten (Rp 1,5 miliar) yang diketuai oleh Aden Abdul Khalik, adik tiri Ratu Atut
-       Himpaudi (RP 3,5 miliar) yang diketuai oleh Ade Rossi, menantu Ratu Atut
-       Tagana Provinsi Banten (Rp  1,75 miliar) yang diketuai Andhika Hazrumi, anak Ratu Atut
-       GP Ansor Kota Tangerang (Rp 400 juta) yang diketuai Tanto W Arban, menantu Ratu Atut

3. Pemberian dana hibah untuk seluruh perhimpunan istri aparat penegak hukum di Provinsi Banten, dana bantuan hibah yang tidak jelas nama organisasinya

4. Membiayai 150 orang yang disebut ‘tokoh’ yang menghabiskan biaya sebesar Rp 7,5 miliar. Padahal, dalam daftar penerima bantuan dengan tegas disebutkan nama organisasi bukan nama kegiatan.

“Intinya, atas kebijakan Atut tersebut diduga telah terjadi kerugian keuangan negara dari dana bantuan hibah sebesar Rp 88,02 miliar dan dana bantuan social sebesar Rp 49, 460 miliar,” kata Suhada.
(sl/berbagai sumber)

Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer