Home » » Kampung Kubur yang Jadi Kampung Narkoba

Kampung Kubur yang Jadi Kampung Narkoba

Written By Redaksi kabarsulawesi on Selasa, 28 Januari 2014 | 9:14 AM


Kabarsulawesi.com – Medan : Kampung Kubur hanya satu lingkungan saja dari 16 lingkungan di Kelurahan Petisah Tengah. Namun tidak mudah bagi orang yang pertama kali masuk, sangat sulit keluar dari kawasan yang digelari sarang narkoba tersebut. Penyebabnya, Kampung Kubur punya 30 jalan tikus berupa gang yang sebagian buntu.
 
"Kalau Bapak saya bawa ke dalam, lalu saya tinggalkan, belum tentu bisa keluar. Enggak juga (tembus sungai), bisa jumpa tembok rumah warga. Apalagi kalau kondisinya malam. Ada 30-an lebih gang lah di sana," ujar seorang tokoh Kampung Kubur, yang dipertemukan Camat Medan Petisah M Yunus dengan Tribun Medan, di Kantor Camat Medan Petisah, Senin (27/1/2014).

Namun ayah beranak dua yang mewarisi rumah dan bermukim di Kampung Kubur selama 88 tahun tak mau identitas dan pekerjaannya dipublikasikan. ''Sebenarnya pun saya tak mau datang kemari kalau tahu Bapak wartawan. Saya menghargai Pak Camat saja."

Meski merupakan tokoh yang dihargai di Kampung Kubur, dirinya tidak bisa mengusir seorang warga yang ketahuan pengedar. Paling hanya menasihati, tetapi tetap saja seperti itu.

"Mereka memang ada yang penduduk setempat. Orang datang macam wisata kuliner sapsap Jangan libatkan Kampung Kubur dalam semua hal. Jangan semua, yang salah disalahkan, yang benar pun harus dikatakan benar. Media juga harus fair dalam memberitakan. Mari sama-sama kita benahi. Kita gak mau ngada-ngada. Memang ada, nggak saya rondokkan itu. Pengedar saya gak begitu tahu, tetapi orang datang bertamu tentu disambut. Makanya polisi tidak merazia semua karena sudah tau lokasi di mana saja."

Ia mengaku berkali-kali kena damprat orang-orang yang dinasihatinya. "Capek lah saya. Kalau saya nasihati, dia bilang nggak keluarga kau, bukan kau, dan bukan urusan kau. Mau cemana kita. Terkadang betul juga kata mereka. Ada batasan kita mengusir. Kita menggedor hati ke hati. Saya bukan takut nama saya disebut, tetapi lebih baik inisial saja. Kita nggak mau dianggap pengkhianat, tetapi saya tetap berkhianat terhadap narkoba. Kita perang terhadap narkoba."

Apakah dirinya tak khawatir dua anaknya terbebas dari narkoba? "Saya selalu bilang, bagus dipijak dan ditikami saja (kalau sudah kecanduan narkoba). Karena kita sudah tengok dampaknya. Anak saya lebih bagus mati daripada hidup, kalau sudah pakek narkoba."

Meski tak bisa memastikan, pria paruh baya ini menjelaskan narkoba mulai menjangkiti Kampung Kubur pada era 2005-2006. "Itu mulai 2005-2006, nggak rame tetapi ada. Kalau prostitusi bukan di Kampung Kubur tetapi di bawah titi Jalan Kejaksaan itu. Saya juga sering sampaikan ke pemuda di sana, bahwa itu (narkoba), berbahaya. Tidak semua orang Kampung Kubur senang dengan itu. Tapi polisi kalau razia pun jangan pamer pistol la," katanya sembari berpamitan.

Sebelumnya Sosiolog USU Agus Suryadi, menyebut keberadaan Kampung Kubur diawali dari lokalisasi pertama di Kota Medan. Camat Yunus mengatakan pria yang diwawancarai Tribun Medan, merupakan sosok yang dihormati di Kampung Kubur dan sengaja mengundangnya untuk menjawab pertanyaan Tribun. "Kalau Kepling di Kampung Kubur namanya Bu Emi. Sedang sakit, tadi apel datang tetapi gak enak badan," ujar Yunus di kantornya.

Menurut Yunus, jumlah warga Kampung Kubur kurang lebih 200 Kepala Keluarga (KK). Pekerjaannya, bermacam-macam, seperti pegawai swasta dan karyawan toko. Tetapi umumnya, berpenghasilan rendah.

"Kekeluargaan di sana sangat kuat. Itu hanya satu lingkungan kurang lebih 200 KK, karena satu rumah ada yang sampai tinggal tiga KK. Relokasi masa saya belum ada dengar. Tetapi sudah menjadi masalah Kota Medan. Mereka (sebagian orang dalam) nggak suka dengan kondisi seperti itu, tetapi jangan (berkomentar) dari mulut mereka."

Bahkan menurut Yunus, ketika ada razia kepolisian, masyarakat lebih tenang jika melihat aparat desa hadir saat penggerebekan. "Justru kalau ada, kami mereka tenang, kalau nggak ada kami mereka ribut. Coba lah masuk ke dalam. Di dalam itu cuek. Daerah paling aman di sana."

Ia mengakui warganya di Kampung Kubur juga bosan melihat kampungnya yang tak selesai-selesai dari masalah itu-itu saja. "Karena nggak tuntas-tuntas, mereka juga terganggu. Muak lah orang itu, tetapi jangan dari orang itu (ngomongnya). Sosialisasi pun kita lakukan gak akan datang, dikira nanti kibus. Dari yang berwenang (kepolisian) jangan tanggung-tanggung. Bagaimana tekniknya saya mana tau."

Apakah sudah ada pembahasan serius di tingkat Pemko Medan terkait Kampung Kubur? "Sampai sekarang belum ada pembahasan serius di tingkat Pemko Medan. Kalau razia baru ada koordinasi. Kami aparatur ini mengadu pada Polisi. Saya tidak menyalahkan pihak kepolisian, tetapi serius kenapa. Selama (jadi) camat gitu-gitu saja. Setelah ditangkap, tidak gak ada lagi progresnya."

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri mengungkapkan akan meneruskan permasalahan di Kampung Kubur ke pemerintahan tingkat bawah seperti kecamatan dan kelurahan.
"Itu nanti kita teruskan ke Camat Petisah dan lurah di Kampung Kubur. Kita tetap, ini program pemerintah bagaimana menanggulangi dengan menyusun kelembagaan-kelembagaan dalam rangka penanggulangan narkoba," ujarnya melalui selulernya, Senin.

Apakah ada kemungkinan relokasi? "Itu berkaitan dengan wilayah. Kita lakukan pembinaan di tingkat camat supaya break down. Sekda hanya sebagai administrasi. Yang bagus menjawab camat. Karena saya administrasi kebijakan di tangan wali kota."

Syaiful mengatakan ketika pejabat negara atau pusat datang ke Medan, tidak pernah menanyakan soal Kampung Kubur. "Itu kita saja di Medan memahami itu. Maksud saya dari sisi pemerintahan wilayah (camat dan lurah) melakukan perubahan prilaku. Masuk dalam bentuk pelatihan dan kesibukan untuk menghindari itu (kegiatan narkoba).''

Sementara Kasat Reserse Narkoba Polresta Medan Kompol Dony Alexander menegaskan optimistis bisa menghentikan peredaran narkoba di Kampung Kubur. "Siapa bilang nggak bisa? Kalau kenapa lama sekali, jangan tanya saya, tanya pejabat lama. Data resmi (titik seperti Kampung Kubur), seperti itu nggak bisa kita menyebut. Ini bukan target kasat narkoba tetapi target kepolisian dan masyarakat," ujarnya, Senin malam.

Dony juga memberikan warning pada bandar-bandar narkotika di Medan untuk segera menghentikan bisnis haram tersebut. "Bandar narkoba kita sampaikan, sudahlah tidak usah merusak generasi muda. Insyallah, karena masyarakat membantu. Keberhasilan kami keberhasilan masyarakat juga. Ini semua berkat informasi dari masyarakat. Mudah-mudahan 2014 atau ke depan kita bisa bersih dari narkoba. Termasuk kamu kalau tau peredaran narkoba informasikan juga."

Menurut Dony, di Kampung Kubur sendiri semua bisa masuk baik itu pemain besar ataupun pemain kecil. Ia juga mengaku, tanggung jawab ini tidak hanya di kepolisian saja.

"Semua bisa masuk. Pemain besar ada, pemain kecil ada, kalau kamu tanya seperti itu. Kami memberikan penyuluhan dan penindakan hukum. Kita semua harus bertanggung jawab bukan hanya kepolisian saja. Polisi tidak mungkin bisa bertindak sendiri. Saya berupaya, tetapi saya tidak pribadi, namun semua kepolisian Polresta Medan mulai tingkat polsek untuk mencari bandar." (sumber : tribunnews/soel)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer