Home » » KPK Didesak Periksa Dirut Pertamina

KPK Didesak Periksa Dirut Pertamina

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 25 Januari 2014 | 9:30 AM


Kabarsulawesi.com – Jakarta : KPK Didesak periksa Karen Agustiawan, Dirut Pertamina terkait kasus SKK Migas.  Selain mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan diduga juga ikut saweran memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada anggota Komisi VII DPR. ''Kalau diduga ada bukti, Karen harus diperiksa KPK, dan KPK harus proaktif tuntaskan kasus ini,'' kata pengamat hukum Suparwan Zahary Gabat.
 
Pemberian THR ini terungkap saat Rudi bersaksi untuk terdakwa Simon Gunawan Tanjaya. Rudi mengungkapkan, ada permintaan THR dari anggota Komisi VII DPR. Pada saat bersamaan, menurut Rudi, ada pihak yang bersedia memberikan bantuan kepadanya. Rudi tak merinci siapa mereka.

Seperti dilaporkan Harian Kompas, Kamis (23/1), nama Karen muncul dalam komunikasinya dengan Rudi yang tersadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam pembicaraan tersebut, muncul ucapan yang diduga sebagai bentuk permintaan THR dari anggota Komisi VII DPR.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies(IMES) M Erwin Usman berharap, pemeriksaan terhadap Karen sebagai upaya pengembangan penyidikan yang dilakukan KPK, setelah operasi tangkap tangan Rubi Rubiandini di rumah dinasnya. “Karen diduga mengetahui proses dan seluk beluk tender di SKK Migas,” paparnya, Jumat (8/11).

Menurut Erwin, Karen Agustiawan dan Rudi Rubiandini hanyalah 'pion' dari sindikasi kartel migas. Erwin mengungkapkan, salah satu gembong dari sindikasi itu yang patut diperiksa KPK adalah M Reza Chalid (PETRAL). Selain itu, Menteri ESDM dan Sekertaris SKK Migas Gde Pradyana. “Adapun terhadap Sekjen ESDM Waryono Karno yang sudah dicekal KPK dan diperiksa dua kali, layak ditahan,” desaknya.

Sebagaimana diketahui, Karen Agustiawan menyerahkan dokumen tambahan ke KPK terkait kasus suap di lingkungan SKK Migas. Karen mengaku telah menjelaskan dokumen tambahan itu secara detil. "Jadi kami sudah menyampaikan dokumen tambahan yang dibutuhkan dan dokumen tambahan juga telah kami jelaskan secara detail kepada penyidik," kata Karen di KPK, Jumat (8/11).

Saat ditanya soal dokumen tambahan apa yang diserahkan, Karen tetap enggan menjawab. Dia juga enggan menjawab saat ditanyakan terkait rapat antara Pertamina dan SKK Migas yang membahas tentang tender penjualan Kondensat Senipah.

Sementara Jurubicara KPK Johan Budi mengatakan, Karen menjalani pemeriksaan lanjutan oleh KPK, karena pemeriksaan Karen sebelumnya dianggap masih kurang. "Hari ini Karen Agustiawan menjalani pemeriksaan lanjutan," jelas Johan.

Dalam surat dakwaan Simon Gunawan Tanjaya, terlihat jelas peran Karen dalam penjualan kondensat Senipah. Dia ikut terlibat dalam rapat pembahasan pelelangan di SKK Migas. Pada 28 Mei 2013 bertempat di kantor SKK Migas, digelar rapat antara pihak SKK Migas, Pertamina dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Saat itu rapat membahas soal pelelangan kondensat Senipah.

Fossus Energy Ltd sebagai pemenang lelang Senipah periode Juli 2013. Fossus mendapatkan kuota sebanyak 300 ribu Barrel. Fossus Energy merupakan salah satu perusahaan milik Widodo Ratanachaitong. Widodo sendiri diduga sebagai pihak pemberi suap untuk mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini.

Secara terpisah, Peneliti ekonomi yang juga Direktur Eksekutif Institute for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mendesak seharusnya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan 8 (delapan) pertanyaan kepada Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

“Ini terkait BUMN migas yang bernama  PT Pertamina (Persero) itu diketahui menerbitkan surat utang jangka menengah senilai 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 48 triliun,” tegasnya.

Menurut Salamuddin Daeng, delapan pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Kemana keuntungan hasil jual minyak mentah Pertamina yang diperoleh dari sumur-sumur minyak Pertamina?
2) Kemana keuntungan hasil ekspor minyak mentah yang menjadi jatah negara yang diserahkan oleh kontraktor swasta dan asing?
3) Kemana keuntungan hasil jual oil product (bensin, solar, minyak tanah) yang disubsidi oleh negara?
4) Kemana keuntungan hasil jual gas Pertamina?
5) Kemana keuntungan hasil impor minyak mentah oleh anak perusahaan Pertamina Petral?
6) Kemana keuntungan hasil jual surat utang Pertamina?
7) Kemana keuntungan hasil goring-goreang saham Pertamina di pasar saham?
8) Mengapa Pertamina saat ini menanggung utang luar negeri menggunung?
Sebagai catatan, Dirut Pertamina telah dipanggil dan diperiksa dua kali oleh KPK terkait dugaan korupsi SKK Migas. “Kita mau lihat sejauh mana BUMN terkorup sepanjang abad ini kebal dari hukum,” tegas Salamuddin Daeng, Senin (4/11). (rimanews)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer