Home » » Perlawanan Tokoh Adat dan Masyarakatnya atas Pertambangan Brutal di NTT

Perlawanan Tokoh Adat dan Masyarakatnya atas Pertambangan Brutal di NTT

Written By Redaksi kabarsulawesi on Sabtu, 25 Januari 2014 | 7:00 AM



Kabarsulawesi.com – NTT : Perlawanan dari kalangan Adat atas pertambangan yang menghancurkan lingkungan hidup, tak terelakkan di NTT. Sebanyak 37 tokoh adat di eks Kedaluan Ruis, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur sepakat menolak pertambangan di wilayah Hamente milik mereka.

Hal itu, sebagaimana dilansir Kompas, disampaikan para tetua adat dalam loka karya yang difasilitasi JPIC SVD Ruteng di Reo, dari 22 hingga 24 Januari 2014. Loka karya itu membicarakan tentang penguatan lembaga adat serta hubungan manusia Manggarai dengan alam di sekitarnya.

Para tetua adat sepakat bahwa orang Manggarai memiliki hubungan sangat erat dan mendalam dengan alam. Hubungan itu diistilahkan dengan kata-kata "Gendang One Lingko Peang". Alam memberikan kehidupan bagi manusia Manggarai mulai dari air kehidupan maupun kebutuhan hidup manusia.

"Saya siap mempertaruhkan jiwa dan raga untuk menolak kehadiran pertambangan. Di rumah gendang Loce sudah sepakat menolak pertambangan. Saya siap mati demi membela keutuhan lingkungan yang berkelanjutan. Selama ini lingkungan hidup rusak akibat usaha pertambangan," tegas Sebastianus Nggeon, Tetua Rumah Gendang Loce dalam wilayah eks Kedaluan Ruis, kepada Kompas.com, Jumat (24/1/2014) sore.

Tetua adat lain dari Rumah Gendang Loce, Paulus Baut menegaskan, orang Manggarai yang berada di kampung-kampung harus mempertahankan martabat adat yang sudah diwariskan secara turun temurun. Tegakkan martabat adat yang ada dalam diri orang Manggarai Raya.

"Kemiskinan dan kelaparan sudah sejak lama dialami orang Manggarai. Namun, hingga hari ini orang Manggarai tetap hidup dari kearifan lokal orang Manggarai dan dari hasil pertanian, perkebunan dan kelautan," tegasnya kepada Kompas.com di Reo, Jumat (24/1/2014).

Baut menjelaskan, orang Manggarai sendiri dapat mengatasi kemiskinan tanpa kehadiran pertambangan. Anak-anak orang Manggarai bisa sekolah sampai di perguruan tinggi dari usaha pertanian.

Tetua adat dari Rumah Gendang Gincu, Gaspar Sales menjelaskan, investor pertambangan datang untuk mengadu domba para tetua adat di wilayah eks Kedaluan Ruis. Investor pertambangan selalu datang untuk mempermainkan tua-tua adat di sejumlah rumah gendang di wilayah eks Kedaluan Ruis.

"Kami sepakat untuk tidak menerima kehadiran pertambangan di wilayah eks Kedaluan Ruis di masa yang akan datang," tegasnya.(KCM/rimanews)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer