Home » » 986 Kasus Pneumonia Balita Terdeteksi di Bali

986 Kasus Pneumonia Balita Terdeteksi di Bali

Written By Redaksi kabarsulawesi on Minggu, 06 Juli 2014 | 12:42 PM



Kabarsulawesi.com – Bali : Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia di temukan paling banyak menyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS. Mengingat bahaya pneumonia, maka perlu perhatian lebih untuk mengantisipasi serangan penyakit tersebut terhadap anak-anak kita.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali baru mendeteksi sebanyak 986 dari target 9.174 kasus penyakit pneumonia (radang paru-paru) pada balita di sembilan kabupaten/kota pada trimester I, kata Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Ketut Suarjaya.

"Untuk itu capaian target pencatatan jumlah balita sakit harus ditingkatkan kembali sesuai imbauan Kementerian Kesehatan," kata dr Ketut Suarjaya di Denpasar, Sabtu.

Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang di sebabkan oleh mikroorganisme, meliputi virus, bakteri, jamur dan parasit. Sebagian besar kasus pneumonia di sebabkan oleh virus, seperti adenoviruses, rhinovirus, influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV) dan para influenza virus. Biasanya, pneumonia pada anak di awali dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas. Gejala pneumonia baru mulai tampak setelah 2-3 hari demam atau sakit tenggorokan.

Ia mengatakan kasus pneumonia pada balita di Bali masih harus dideteksi, hal ini disebabkan petugas klinis di puskesmas masih belum dapat memastikan diagnosa utama pneumonia tersebut karena keterbatasan alat.

Untuk itu, pihaknya sudah merencanakan pembaruan alat kesehatan untuk mendeteksi penyakit pneumonia sehingga mampu mencapai target untuk mengurangi angka kesakitan balita yang terserang pneumonia.

"Kendala tersebut menjadi pekerjaan rumah untuksemua petugas kesehatann dilapangan sehingga deteksi penyakit pneumonia di Bali cakupannya dapat meningkat," ujarnya.
Ketut Suarjaya mengatakan tahun 2014 target yang sudah ditentukan oleh Kementerian kesehatan untuk cakupan penyakit pneumonia tersebut harus mencapai 90 persen dari keseluruhan kasus di sembilan Kabupaten/kota di Bali.

"Bukan saja kendala ini terjadi di bali. Namun, di seluruh provinsi di Indonesia juga mengalaminya," katanya.

Gejala pneumonia pada anak beragam sesuai usia dan penyebab pneumonia. Biasanya gejalanya adalah; demam, menggigil, batuk, suara serak, nafas yang tidak teratur, terdengar bunyi dengkuran ketika bernafas, nafas yang berat hingga menyebabkan tulang rusuk berkontraksi, muntah, sakit di bagian leher, sakit perut, penurunan kemampuan tubuh untuk beraktivitas, kehilangan nafsu makan, dehidrasi dan pada kasus yang parah pneumonia pada anak menyebabkan bibir dan kuku berwarna keabu-abuan.

Ia menuturkan bahwa pada tahun 2015 pihaknya akan terus berupaya melakukan pengendalian penyakit pneumonia sehingga diharapkan seluruh cakupan balita terkena Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) dapat terdeteksi secara keseluruhan.

Selain itu, pihaknya sudah bekerjasama dengan Subdik ISPA untuk secara terus menerus mengumpulkan data bayi terdeteksi penyakit pneumonia diseluruh puskesmas dan rumah sakit Pemerintah/swasta di Bali

"Banyak sekali kemungkinan kasus ini mencuat di pelayanan rumah sakit dan tidak tercatat di Puskesmas," ujarnya.(berbagai sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer