Home » » Prajurit TNI Pembakar Juru Parkir di Pecat

Prajurit TNI Pembakar Juru Parkir di Pecat

Written By Redaksi kabarsulawesi on Minggu, 06 Juli 2014 | 12:31 PM



Kabarsulawesi.com – Jakarta : Kondisi Tengku Yusri, 47 tahun, juru pakir Monumen Nasional yang menjadi korban penganiayaan oleh Prajurit Satu (Pratu) Heri semakin memburuk. "Setiap dua hari sekali, harus periksa darah," ujar Cut Megawati, 42 tahun, istri Tengku Yusri saat ditemui di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Kamis, 3 Juli 2014, sekitar pukul 22.34 WIB.

dok google
Hingga saat ini, ia masih belum diizinkan untuk masuk ke Intensive Care Unit (ICU) lantai dua tempat suaminya terbaring dalam kondisi kritis. Cut Mega juga belum sanggup melihat kondisi suaminya secara langsung. Ia sempat mendengar kabar, luka bakar yang diderita Yusri sebenarnya lebih dari 70 persen.

Cut Megawati bersama kedua anaknya, Halimatus, 3 tahun, dan Halida, 2 tahun, tampak kelelahan. Ia datang dari penginapan sewaan harian di kawasan Salemba dengan menggunakan bajaj salah satu teman Yusri. Ia menyesalkan pihak Tentara Nasional Indonesia, Detasemen Polisi Militer (Denpom) maupun keluarga pelaku, yang menurutnya tidak menunjukkan niat untuk menjenguk Tengku Yusri.

"Saya harap bisa ketemu sama pihak Denpom, juga keluarga pelaku untuk segera menjenguk dan bertanggung jawab atas suami saya," ujarnya sambil menghapus butir keringat dari wajahnya. Ia terduduk lemas sambil memeluk kedua putrinya erat di dalam bajaj.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Andika Perkasa memastikan penganiayaan yang dilakukan Prajurit Satu Heri terhadap juru parkir Monas bernama Yusri dilakukan seorang diri. "Dua orang yang disebut-sebut teman Pratu Heri itu juniornya, prajurit kepala (praka). Mereka adalah Praka S dan Praka H," katanya kepada Tempo, Kamis, 3 Juli 2014.)

"Tapi, dari hasil pemeriksaan kami, keduanya dinyatakan tidak terlibat. Mereka tidak tahu," ujarnya.

Andika menjelaskan kenapa kedua junior Pratu Heri yang merupakan anggota Pusat Polisi Militer TNI AD itu dipastikan tidak terlibat. Menurut dia, dari hasil pemeriksaan pihaknya, Praka S dan Praka H tidak bersama Pratu Heri saat kejadian. Keduanya hanya dihubungi Heri yang meminta tolong untuk dibelikan bensin dengan alasan motornya kehabisan bahan bakar.

"Mereka dimintai tolong seniornya untuk dibelikan bensin. Pengakuan ini disampaikan oleh Praka S dan H, dan ini dibenarkan oleh Heri," tuturnya.

Menurut Andika, kedua junior Heri pun membelikan bensin yang dimasukkan ke dalam botol air mineral. Setelah mengantarkan pesanan seniornya itu, keduanya pun pergi. "Mereka tidak tahu penganiayaan itu, karena dua orang ini langsung pergi. Mungkin, setelah keduanya pergi, Praka Heri emosi dengan korban dan apa yang dia pegang itu dia siram, dan terjadi peristiwa pembakaran itu," katanya. 

Kini, Pratu Heri sedang menunggu sidang di Mahkamah Militer yang bakal digelar dalam waktu dekat. Kasus penganiayaan yang mencoreng nama TNI ini mendapat perhatian khusus dari Panglima TNI-AD.

Markas Besar TNI Angkatan Darat sudah menentukan waktu pemecatan Prajurit Satu Heri, Tamtama Detasemen Markas Pusat Polisi Militer TNI AD. Pratu Heri adalah pelaku pembakaran terhadap Yusri, 40 tahun, juru parkir di Monas.)

"Mabes TNI AD akan menggelar upacara pemecatan Pratu Heri pada Senin, 7 Juli 2014, pukul 08.00 WIB di kantor pusat Polisi Militer TNI AD, Gambir, Jakarta Pusat," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Andika Perkasa melalui pesan pendek, Jumat, 4 Juli 2014. Dia pun mempersilakan awak media meliput.

Andika mengatakan penyidik Polisi Militer Kodam Jaya sudah menyerahkan berkas pemeriksaan Pratu Heri ke Odituriat Militer II-08 Jakarta awal pekan ini. Sampai saat ini, Odituriat Militer II-08 Jakarta, yang berada di bawah Mabes TNI, masih melengkapi berkas agar bisa segera diajukan ke persidangan.

"Mahkamah Militer II Jakarta juga masih memproses jadwal persidangan untuk Pratu Heri," ujar Andika.

Hasil pemeriksaan sementara, Pratu Heri terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan berat. Dia menyiram bensin dari botol air mineral ke wajah dan badan Yusri. Penyebabnya, Yusri kurang memberikan uang "jatah" yang diminta sebesar Rp 150 ribu.

Berdasarkan keterangan saksi dan korban, pelaku sudah dua bulan sering meminta jatah kepada pedagang dan tukang parkir di area tersebut. Pratu Heri menyulut Yusri dengan korek api gas sehingga membakar bagian tubuh korban yang tersiram bensin. Pratu Heri akan dijerat Pasal 354 KUHP tentang Penganiayaan Berat dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara. (sumber : tempo.co.id)
Share this article :
 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer