Home » » Eksekusi Mati “yang memalukan”

Eksekusi Mati “yang memalukan”

Written By Redaksi kabarsulawesi on Rabu, 29 April 2015 | 12:25 PM

kabarsulawesi.com : Eksekusi mati terhadap 8 orang di Indonesia pada hari ini menunjukkan ketidak pedulian sama sekali terhadap proses hukum dan standar perlindungan hak asasi manusia, menurut Amnesty International. Organisasi ini juga menyerukan rencana untuk melaksanakan eksekusi mati lebih lanjut harus dihentikan. Delapan orang, termasuk Warga Negara Indonesia dan asing, hari ini dieksekusi mati oleh regu tembak di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. 

Mereka semua telah dihukum mati karena kasus narkotika. Eksekusi Warga Negara Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso, ditunda di menit-menit akhir oleh Presiden Joko Widodo. 

"Eksekusi mati ini benar-benar cacat - mereka dilaksanakan dengan mengabaikan sama sekali standar perlindungan yang diakui secara internasional tentang penggunaan hukuman mati," kata Rupert Abbott, Direktur Riset Amnesty International untuk Asia Tenggara dan Pasifik. 

 "Presiden Joko Widodo harus segera membatalkan rencana untuk melaksanakan eksekusi-eksekusi mati lebih lanjut dan memberlakukan moratorium eksekusi mati sebagai langkah pertama menuju penghapusan hukuman mati." 

Ada setidaknya dua proses banding hukum yang sedang berlangsung dari terpidana mati yang telah diterima oleh pengadilan di Indonesia. Petisi grasi dari semua 8 tahanan telah secara tergesa-gesa dipertimbangkan dan ditolak, mengabaikan hak mereka untuk mengajukan pengampunan atau peringanan hukuman sebagaimana diatur dalam hukum internasional. Empat belas orang kini telah dihukum mati di Indonesia pada 2015, dan pemerintah telah mengumumkan rencana untuk eksekusi mati lebih lanjut tahun ini. 

 "Hukuman mati selalu merupakan pelanggaran hak asasi manusia, tetapi ada sejumlah faktor yang membuat eksekusi mati hari ini bahkan lebih menyedihkan. Beberapa tahanan dilaporkan tidak diberikan akses ke pengacara yang kompeten atau penterjemah selama penangkapan dan persidangan awal, melanggar hak mereka atas pengadilan yang adil yang diakui hukum internasional dan nasional. " 

 "Salah satu dari mereka dieksekusi hari ini, Rodrigo Gularte, Warga Negara Brasil, telah didiagnosis dengan skizofrenia paranoid, dan hukum internasional jelas melarang penerapan hukuman mati terhadap mereka yang cacat mental. Ini juga mengganggu bahwa orang-orang yang dihukum karena kasus-kasus narkotika telah dieksekusi mati, meskipun ini tidak memenuhi ambang "kejahatan paling serius" yang mana hukuman mati bisa diterapkan menurut hukum internasional." 

Latar belakang 

Amnesty International menentang hukuman mati dalam semua kasus dan dalam keadaan apapun, terlepas dari sifat kejahatan, karakteristik pelaku, atau metode yang digunakan oleh negara untuk melaksanakan eksekusi mati. Hukuman mati melanggar hak untuk hidup sebagaimana yang diakui dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan merupakan hukuman yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat. Perlindungan terhadap hak untuk hidup juga diakui dalam Konstitusi Indonesia. 

Sejauh ini, 140 negara telah menghapuskan hukuman mati dalam hukum atau praktik. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa hukuman mati mencegah kejahatan lebih efektif ketimbang bentuk-bentuk penghukuman lainnya. Sebuah kajian komprehensif yang dilakukan oleh PBB atas hubungan antara hukuman mati dan tingkat angka pembunuhan menyimpulkan bahwa penelitian telah gagal untuk memberikan bukti ilmiah bahwa eksekusi mati memiliki efek jera yang lebih besar dari hukuman penjara seumur hidup. 

Delapan orang yang dieksekusi hari ini adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (keduanya Warga Negara Australia, laki-laki), Raheem Agbaje Salami (Warga Negara Nigeria, laki-laki juga dikenal sebagai Jamiu Owolabi Abashin), Zainal Abidin (Warga Negara Indonesia, laki-laki), Martin Anderson, alias Belo (Warga Negara Ghana, laki-laki), Rodrigo Gularte (Warga Negara Brasil, laki-laki), Sylvester Obiekwe Nwolise (Warga Negara Nigeria, laki-laki) dan Okwudili Oyatanze (Warga Negara Nigeria, laki-laki). 

Josef Benedict 

AMNESTY INTERNATIONAL SIARAN PERS 
28 April 2015
Share this article :
 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer