Home » » Selamatkan ribuan orang yang dalam bahaya besar di laut

Selamatkan ribuan orang yang dalam bahaya besar di laut

Written By Redaksi kabarsulawesi on Kamis, 14 Mei 2015 | 1:24 PM

kabarsulawesi.com : Pemerintah-pemerintah Asia Tenggara harus segera mengambil upaya-upaya pencarian dan penyelamatan untuk memastikan bahwa ribuan orang yang terdampar di perahu-perahu tidak ditinggalkan dalam kondisi genting dan beresiko terhadap kematian, menurut Amnesty International said, sebagaimana satu lagi perahu berisi ratusan orang yang dianggap merupakan migran dan pencari suaka dalam kondisi putus asa saat ini menunggu penyelamatan di lepas pantai Thailand. 

 Amnesty International telah mengkonfirmasikan bahwa sebuah perahu penuh dengan 350 orang, termasuk anak-anak, saat ini hanyut di lepas pantai Thailand dan Malaysia. Ratusan orang tersebut dipercaya berasal dari Myanmar atau Bangladesh, telah berada di lautan selama “berhari-hari”, kemungkinan lebih dari dua bulan. Awak kapalnya meninggalkan mereka selama beberapa hari yang lalu. Penumpang perahu tidak memiliki makanan dan air, dan memerlukan bantuan kesehatan yang mendesak. 

Kapal-kapal Angkatan Laut Thailand saat ini sedang mencari kapal tersebut. “Pemerintah-pemerintah di Asia Tenggara harus segera bertindak untuk menghentikan krisis kemanusian yang berlangsung. Menjadi penting bahwa Negara-negera di kawasan ini meluncurkan operasi-operasi pencarian dan penyelamatan yang terkoordinasi untuk menyelamatkan mereka yang ada di lautan – segala sesuatu yang di bawah ini akan menjadi vonis mati bagi ribuan orang,” menurut Kate Schuetze, peneliti Asia Pasifik Amnesty International Asia.

“Adalah mengerikan untuk berpikir bahwa ratusan orang sekarang hanyut di perahu makin mendekati kematian, tanpa makanan atau air, dan bahkan tanpa mengetahui di mana mereka berada.” 

Pagi hari ini, sebuah perahu membawa sekitar 500 orang ditemukan di lepas pantai pulau Penang di Malaysia utara. Pihak berwenang Malaysia minggu ini menyatakan bahwa mereka akan menggunakan langkah-langkah sanksi keras, termasuk menghalau balik perahu-perahu dan mendeportasi para migran dan pengungsi, untuk mengirimkan “pesan yang benar” bagi kedatangan-kedatangan yang tidak normal tersebut. “Pihak berwenang Malaysia memiliki sebuah kewajiban untuk melindungi dan tidak menghukum ratusan orang yang sampai ke pantai negeri tersebut hari ini. Mereka harus diberikan pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan mendesak, dan dalam kondisi apa pun tidak boleh dikirim balik ke lautan atau dipindahkan ke suatu tempat di mana hak-hak mereka atau jiwa mereka beresiko,” menurut Kate Schuetze. 

“Komentar-komentar para pihak berwenang bahwa mereka akan menghalau balik mereka yang datang dengan perahu-perahu merupakan serangan terhadap martabat manusia. Lebih-lebih lagi, jika para pihak berwenang ini melanjutkan ancaman-ancaman tersebut, mereka akan melanggar kewajiban-kewajiban internasional Malaysia.” 

Dalam beberapa hari terakhir, jumlah orang-orang yang meningkat dari Myanmar dan Bangladesh telah tiba dengan perahu di Malaysia dan Indonesia. Paling tidak satu perahu dengan 400 orang yang diperkirakan merupakan orang-orang Rohingya dihalau keluar ke lautan oleh Angkatan Laut Indonesia, di lepas pantai Aceh, setelah diberikan makanaan dan bahan bakar. Sebuah tekanan terhadap kedatangan-kedatangan tidak normal di Thailand nampaknya memaksa para penyelundup dan pelaku perdagangan manusia untuk mencari jalur baru. 

Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration) percaya bahwa 8.000 orang mungkin masih di perahu-perahu di dekat Thailand. Ribuan orang yang telah meninggalkan Bangladesh dan Myanmar mencakup para migran yang rentan, pengungsi, seperti orang Muslim Rohingya yang melarikan diri dari diskriminasi dan kekerasan di Myanmar, dan para korban perdagangan manusia. Banyak dari mereka sangat putus asa hingga mempertaruhkan nyawa mereka dalam resiko dengan berani menghadapi perjalanan yang berbahaya di lautan supaya bisa melepaskan diri dari kondisi yang tak tertahankan di tempat asal mereka. 

 “Ribuan orang dalam resiko harusnya mendapat prioritas segera, tetapi akar penyebab masalah dari krisis ini harus diselesaikan. Fakta bahwa ribuan orang Rohingya memilih perjalanan berbahaya dengan perahu, mungkin karena mereka tidak bisa selamat bila tinggal di Myanmar merupakan penanda yang jelas tentang kondisi yang mereka hadapi di sana,” menurut Kate Schuetze. 


Josef Roy Benedict
Campaigner - Indonesia & Timor-Leste

AMNESTY INTERNATIONAL
PERNYATAAN PUBLIK

Share this article :

Posting Komentar

 
Redaksi : Pedoman Ciber | Testimoni | Kirim Berita
Copyright © 2011. Kabarsulawesi.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Kabar Sulawesi Disclaimer